KONTAN.CO.ID - Indeks utama Wall Street bergerak tipis ke bawah pada perdagangan Kamis (9/4/202), setelah reli pada sesi sebelumnya, seiring keraguan terhadap gencatan senjata dua pekan di Timur Tengah dan publikasi data inflasi yang sesuai ekspektasi membuat sentimen risiko tetap terjaga. Melansir
Reuters, pukul 10:04 pagi waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 48,96 poin atau 0,11% ke 47.856,44, S&P 500 melemah 5,15 poin atau 0,09% ke 6.777,00, dan Nasdaq Composite turun 45,85 poin atau 0,21% ke 22.585,96.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Lesu Kamis (9/4), Pasar Cermati Gencatan Senjata Timur Tengah Saham teknologi menjadi penekan terbesar S&P 500, dengan Microsoft dan Apple turun masing-masing 1,7% dan 0,7%. Saham perangkat lunak juga tertekan, terlihat dari iShares Expanded Tech-Software ETF yang merosot 3,3%. Di sisi lain, saham konsumer diskresioner mendapat dukungan dari Amazon.com yang naik 1,7% setelah CEO perusahaan mengungkapkan layanan AI di unit cloud computing menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$ 15 miliar. Sebelumnya pada Rabu, S&P 500 dan Nasdaq mencatat kenaikan harian terbesar dalam lebih dari satu pekan, sementara Dow Jones mencatat reli terkuat dalam setahun, seiring optimisme pasar terhadap gencatan senjata sementara.
Baca Juga: IDX Basic Materials Tumbuh Positif di Tengah Gejolak, Cek Saham Rekomendasi Analis Asal tahu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menegaskan akan mempertahankan aset militer di Timur Tengah hingga tercapai kesepakatan damai dengan Iran dan memperingatkan eskalasi besar jika gencatan senjata gagal dipatuhi. Sementara itu, Israel melancarkan serangan tambahan ke Lebanon, sementara Teheran menegaskan tidak akan ada kesepakatan jika serangan itu berlanjut. Ketidakpastian lalu lintas di Selat Hormuz meningkatkan risiko terhadap pengiriman energi, memicu rebound harga minyak meski masih di bawah US$ 100 per barel. Sektor energi S&P 500 menguat 1,3%, sedangkan saham utilitas menjadi yang paling tinggi persentasenya, naik 1,6%. “Peralihan dari potensi eskalasi di Iran menuju pendekatan diplomatik telah menenangkan pasar dalam beberapa perspektif,” ujar Charlie Ripley, senior investment strategist Allianz Investment Management.
Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Menguat Lagi Besok (10/4), Ini Sentimennya Sementara itu, data menunjukkan inflasi AS naik sesuai ekspektasi pada Februari dan kemungkinan meningkat lebih lanjut pada Maret di tengah konflik Iran.
Sedangkan, pertumbuhan ekonomi melambat lebih dari estimasi sebelumnya pada kuartal IV. “Ini tidak mengubah narasi Federal Reserve bahwa tekanan inflasi tetap tinggi, sehingga mereka kemungkinan akan menahan suku bunga untuk sementara,” kata Ripley. Investor kini menanti data indeks harga konsumen (CPI) Maret yang akan dirilis Jumat untuk melihat dampak harga minyak tinggi akibat konflik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News