Wall Street Tertekan, Saham Teknologi dan AI Jadi Pemicu Aksi Jual Besar-besaran



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan Selasa (23/6/2026), dipimpin oleh aksi jual besar-besaran di sektor teknologi dan semikonduktor. 

Kekhawatiran investor terhadap sikap Federal Reserve (The Fed) yang semakin hawkish serta besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) yang dibiayai utang memicu koreksi tajam di pasar.

Indeks Nasdaq dan S&P 500 turun ke level terendah dalam lebih dari sepekan. Jika pelemahan berlanjut hingga penutupan perdagangan, kapitalisasi pasar Nasdaq 100 berpotensi menyusut lebih dari US$ 1 triliun.


Pada pukul 09.35 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average turun 395,32 poin atau 0,76% ke 51.317,39. S&P 500 melemah 1,54% ke 7.357,83, sementara Nasdaq Composite merosot 2,04% ke 25.632,87.

Baca Juga: Wall Street Rebound, Saham Teknologi Pulih tapi Dibayangi Kekhawatiran Belanja AI

Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama aksi jual. Nvidia turun 3%, Alphabet melemah 1,2%, sementara saham produsen chip seperti Intel, Marvell Technology, dan Advanced Micro Devices (AMD) anjlok antara 6,2% hingga 8,7%.

Tekanan juga menghantam produsen chip memori. Micron Technology dan SanDisk, yang sebelumnya menjadi salah satu saham dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500 sepanjang tahun ini, masing-masing merosot 12% dan 13%.

Indeks Philadelphia Semiconductor yang menjadi acuan sektor chip ambles 7,3%, sedangkan indeks sektor teknologi S&P 500 turun 3,2%.

Aksi jual ini memperpanjang tekanan yang sudah terjadi sehari sebelumnya. Investor mulai mempertanyakan efektivitas dan keberlanjutan belanja AI yang agresif oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar, terutama karena sebagian pendanaan berasal dari penerbitan utang di tengah valuasi saham yang sudah sangat tinggi.

Chief Executive Officer deVere Group Nigel Green mengatakan perdagangan saham AI telah menjadi salah satu investasi yang paling padat di pasar global.

Menurutnya, ketika hampir semua investor memiliki saham yang sama, gelombang aksi jual dapat terjadi dengan sangat cepat saat sentimen berubah.

Baca Juga: Wall Street Menguat, Saham Teknologi dan AI Jadi Penopang Utama

Indeks Russell 2000 yang sensitif terhadap perubahan suku bunga juga turun 1,7%. Di saat yang sama, indeks volatilitas CBOE atau yang dikenal sebagai "indeks ketakutan" Wall Street naik ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan di posisi 20,13.

Meski mayoritas sektor melemah, sebagian investor mulai mengalihkan dana ke sektor yang dianggap lebih defensif. Sektor kebutuhan pokok konsumen menjadi yang berkinerja terbaik dengan kenaikan 1,2%.

Beberapa saham perangkat lunak yang sebelumnya tertekan juga berhasil bangkit. ServiceNow dan Atlassian masing-masing naik 2,5%, sementara Adobe dan Salesforce menguat lebih dari 1%.

Di sisi lain, saham SpaceX turun 4,8%. Dalam tiga sesi perdagangan terakhir, nilai pasar perusahaan milik Elon Musk tersebut telah menyusut lebih dari US$ 600 miliar.

Pelemahan terjadi setelah perusahaan ikut memanfaatkan pasar obligasi untuk menghimpun dana, memunculkan kembali kekhawatiran bahwa perusahaan teknologi besar semakin bergantung pada utang untuk membiayai ekspansi AI dan pembangunan infrastruktur pendukungnya.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh meningkatnya ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga hingga dua kali pada tahun ini.

Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga kedua dapat terjadi sebelum Desember, jauh lebih agresif dibandingkan perkiraan dua pekan lalu yang hanya mengantisipasi satu kali kenaikan sebesar 25 basis poin.

Baca Juga: Laju Wall Street Terhenti, Saham Teknologi Tekan Indeks Setelah Reli Beberapa Hari

Meski sedang terkoreksi, indeks S&P 500 masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan kuartalan terbaik dalam enam tahun terakhir. Kinerja tersebut didukung meredanya ketegangan di Timur Tengah serta laporan keuangan perusahaan yang lebih kuat dari perkiraan.

Pelaku pasar kini menantikan laporan kinerja Micron Technology yang akan dirilis Rabu (24/6). Hasil tersebut diperkirakan menjadi petunjuk penting mengenai prospek industri chip memori dan AI setelah reli tajam sepanjang tahun ini.

Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis Kamis (25/6). Data inflasi favorit The Fed tersebut berpotensi menjadi penentu arah kebijakan suku bunga dan sentimen pasar dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, tekanan jual masih mendominasi perdagangan. Di Bursa New York (NYSE), jumlah saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio lebih dari dua banding satu.

Sementara di Nasdaq, saham yang melemah juga jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat, menandakan sentimen pasar masih cenderung negatif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News