KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street anjlok dengan indeks Nasdaq mencatat penurunan harian terdalam sejak awal Juni 2026, dipicu oleh serangkaian laporan laba perusahaan besar yang membangkitkan kekhawatiran baru terkait perlombaan belanja di sektor kecerdasan buatan (AI). Kamis (22/10/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik tipis 11,89 poin atau 0,02% menjadi 52.867,98, indeks S&P 500 melemah 93,74 poin atau 1,21% ke 7.663,43 dan indeks Nasdaq Composite anjlok 694,00 poin atau 2,60% ke 26.008,86. Indeks S&P 500 berakhir jauh di zona negatif. Sementara itu, indeks Nasdaq yang didominasi oleh saham teknologi mengalami penurunan lebih dalam setelah anjlok 2,6%, tertekan oleh sektor chip (semikonduktor) menyusul serangkaian laporan laba perusahaan besar yang berkaitan dengan AI.
Indeks Dow, yang mencakup perusahaan-perusahaan unggulan (
blue-chip), berhasil mencatatkan kenaikan tipis sesaat sebelum penutupan perdagangan.
Baca Juga: IHSG Menguat Tiga Hari Beruntun ke 5.387, Cek Saham yang Banyak Diborong Asing Pada sesi ini, saham Meta Platforms ambles 7,0%, meskipun laporan labanya melampaui ekspektasi analis. Induk perusahaan Facebook tersebut mencatat arus keluar kas (
cash outflow) untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade akibat pengeluaran terkait AI. Perusahaan juga mengumumkan rencana untuk menerbitkan saham tanpa hak suara melalui pemecahan saham (
stock split) dengan rasio dua-untuk-satu, guna menggalang modal untuk investasi pada teknologi yang masih dalam tahap awal pengembangan ini. Saham Tesla turun 3,1%, meskipun produsen mobil listrik tersebut secara tak terduga mencatatkan arus kas bebas (
free cash flow) positif pada kuartal ini dan memangkas rencana belanja modal untuk tahun 2026. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE (SOX), yang menjadi pendorong utama kenaikan pasar
bullish saat ini, anjlok 6,7%—penurunan persentase harian terbesar sejak 23 Juni. Dengan penurunan pada hari Kamis tersebut, SOX kini melemah lebih dari 26% dari rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada 22 Juni, meskipun secara tahun berjalan (YTD) indeks ini masih mencatatkan kenaikan sebesar 51,5%. Sebagai perbandingan, indeks S&P 500 telah naik 11,9% dalam periode yang sama. "Ini adalah hari yang luar biasa di Wall Street," ujar Paul Nolte, penasihat kekayaan senior sekaligus ahli strategi pasar di Murphy & Sylvest yang berbasis di Elmhurst, Illinois. "Satu-satunya sektor yang benar-benar terpuruk saat ini adalah teknologi, yang sebelumnya menjadi primadona pasar hingga sekitar bulan Juni." "Para investor mulai menyadari adanya celah dalam narasi seputar kecerdasan buatan (AI)," tambah Nolte. "Hal ini berdampak pada indeks-indeks utama karena bobot sektor teknologi di dalamnya sangat besar."
Baca Juga: Wall Street Melemah, Kekhawatiran AI Kembali Muncul di Tengah Kenaikan Harga Minyak Di kancah geopolitik, kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan baru terhadap target-target di Arab Saudi, yang memicu lonjakan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Para investor khawatir bahwa konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah dapat menjaga inflasi tetap tinggi dan memaksa Federal Reserve AS untuk terus menaikkan suku bunga. Sementara itu, data dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan bahwa jumlah klaim awal untuk tunjangan pengangguran tetap berada di dekat level terendah dalam beberapa dekade. Stabilitas pasar tenaga kerja ini memberikan ruang bagi The Fed untuk fokus memerangi inflasi. Saat ini, pasar keuangan memperhitungkan kemungkinan bahwa bank sentral tersebut akan kembali menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun. Musim laporan laba kuartal ketiga tengah berlangsung, dengan 111 perusahaan dalam indeks S&P 500 telah merilis laporan mereka. Menurut data terbaru dari LSEG, 83% di antaranya mencatatkan kinerja yang melampaui ekspektasi analis. Procter & Gamble memperingatkan bahwa tekanan kenaikan biaya akan semakin menggerus laba, namun perusahaan tersebut tetap berhasil melampaui estimasi analis. Hal ini mendorong harga sahamnya naik 5,6% dan memberikan sentimen positif bagi sektor barang kebutuhan pokok (consumer staples). Saham Blackstone menguat 8,4% setelah perusahaan menyatakan bahwa pelebaran selisih imbal hasil (credit spread) pada utang yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi peluang untuk mengamankan imbal hasil yang lebih tinggi. Saham Lockheed Martin naik 7,0% setelah perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan tersebut menaikkan proyeksi penjualan serta laba tahunannya.
Baca Juga: BEI Pertanyakan Harga Pengalihan Saham BYAN Rp 2.588, Ini Jawaban Manajemen Bayan Saham Spotify juga melonjak 11,1% setelah perusahaan layanan streaming musik asal Swedia itu memproyeksikan laba kuartal keempat di atas estimasi Wall Street, dengan mengandalkan fitur berbasis AI untuk mendorong pertumbuhan jumlah pengguna. Saham Union Pacific naik 3,6% setelah perusahaan mencatatkan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi, didorong oleh kenaikan harga inti, meskipun perusahaan kereta api tersebut juga mencatat dampak negatif dari kenaikan harga bahan bakar. Saham perusahaan semikonduktor seperti Intel, AMD, Sandisk, dan Marvell semuanya anjlok lebih dari 8% di tengah aksi jual yang melanda sektor semikonduktor secara luas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News