Wall Street Turun Lagi Kamis (15/9), Data Ekonomi Mendukung Kenaikan Suku Bunga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Street berakhir melemah tajam pada hari Kamis (15/9). Serangkaian data ekonomi gagal mengubah arah pengetatan agresif yang diharapkan oleh Federal Reserve.

Kamis (15/9), Dow Jones Industrial Average turun 173,27 poin atau 0,56% menjadi 30.961,82. Indeks S&P 500 melemah 44,66 poin atau 1,13% menjadi 3.901,35. Nasdaq Composite turun 167,32 poin atau 1,43% menjadi 11.552,36.

Aksi jual mengumpulkan momentum menjelang akhir sesi perdagangan dini hari tadi. Para pemimpin pasar termasuk Microsoft Corp, Apple Inc dan Amazon.com Inc paling terpukul oleh Nasdaq yang sarat teknologi.


Harga saham FedEx Corp jatuh 14,5% setelah perusahaan pengiriman paket ini mengatakan hasil fiskal kuartal pertama terpukul oleh pelemahan volume global. FedEx juga memperkirakan penurunan lebih lanjut dari kondisi bisnis saat ini. Peringatan FedEx mengirim saham saingannya United Parcel Service turun 5,7% dalam perdagangan yang diperpanjang.

Baca Juga: Wall Street Melemah, Dibayangi Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga

Harga saham bank yang sensitif terhadap suku bunga membantu melunakkan penurunan indeks blue-chip Dow Jones.

"Ini merupakan tahun yang sulit dan investor waspada," kata Matthew Keator, Managing Partner di Keator Group, sebuah perusahaan wealth management di Lenox, Massachusetts kepada Reuters. Dia menambahkan pasar akan tetap bearish hingga ada perubahan yang terjadi.

Kondisi pasar makin bearish setelah Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan perlambatan ekonomi global yang akan datang.

Kumpulan data ekonomi yang beragam, dipimpin oleh penjualan ritel yang lebih baik dari perkiraan, memperkuat kemungkinan kenaikan suku bunga 75 basis poin lagi dari Fed pada akhir pertemuan kebijakan moneter pekan depan. Ketidakpastian melejit karena tidak ada perkiraan langkah bank sentral setelah itu.

"Jika The Fed benar-benar ingin menanganinya dengan benar, maka akan ada penurunan 50 basis poin pada November, pemotongan 25 basis poin pada Desember, dan kemudian mereka akan menilai kembali," kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth di Fairfield, Connecticut. 

Baca Juga: Suku Bunga Hipotek AS Telah Mencapai 6%, Tertinggi Sejak 2008

Selain data penjualan ritel menguat, penurunan klaim pengangguran menegaskan kembali kekuatan pasar tenaga kerja. Sementara penurunan harga impor mendukung alasan inflasi telah mencapai puncak. Tapi penurunan mengejutkan dalam produksi industri dan kontraksi manufaktur kawasan Atlantik menahan optimisme.

FedWatch CME memperkirakan kenaikan suku bunga setidaknya 75 basis points (bps) Rabu (21/9) depan. Sementara seperlima peluang kenaikan suku bunga 100 bps.

Kereta api AS tetap buka setelah pemerintahan Presiden Joe Biden membantu menengahi kesepakatan tentatif dengan serikat pekerja untuk mencegah pemogokan. Hal ini menghindari penutupan kereta api yang akan menambah tekanan rantai pasokan yang bisa mengerek inflasi inti.

Baca Juga: Hati-hati, IHSG Rawan Profit Taking pada Perdagangan Jumat (16/9)

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 mengakhiri sesi di wilayah negatif. Saham energi menunjukkan penurunan persentase terbesar karena perjanjian kereta api sementara dan kekhawatiran permintaan membuat harga minyak mentah jatuh.

Sektor kesehatan membukukan kenaikan terbesar dengan bantuan dari perusahaan asuransi kesehatan Humana Inc yang melonjak 8,4%, top gainer di S&P 500. Humana memperkirakan pendapatan yang kuat.

Sementara penurunan harga saham terbesar S&P 500 terjadi pada Adobe Inc. Harga saham Adobe jatuh 16,8% setelah perusahaan ini mengatakan akan membeli Figma dalam kesepakatan tunai dan saham yang menghargai startup desain online sekitar US$ 20 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati