Wall Street Turun Setelah Data Ekonomi Dirilis Lebih Rendah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Street turun di awal perdagangan Kamis (30/5). Investor menguraikan data yang menunjukkan perekonomian tumbuh kurang dari perkiraan sebelumnya pada kuartal pertama, memicu harapan dimulainya penurunan suku bunga Federal Reserve lebih awal.

Kamis (30/5) pukul 21.51 WIB, Dow Jones Industrial Average turun 1,01% ke 38.055. Indeks S&P 500 melemah 0,48% ke 5.241. Nasdaq Composite turun 0,66% ke 16.809.

Produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) kuartal pertama diturunkan menjadi naik 1,3%, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 1,6%. Departemen Perdagangan AS menyebut, revisi turun ini sebagai akibat dari revisi ke bawah pada belanja konsumen.


Menjelang laporan pengeluaran konsumsi pribadi untuk bulan April yang dirilis pada hari Jumat, data awal menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi inti naik 3,6% pada kuartal pertama, dibandingkan kenaikan yang diharapkan sebesar 3,7%.

Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Koreksi Terbatas pada Akhir Bulan Mei, Jumat (31/5)

Imbal hasil Treasury AS merosot setelah laporan tersebut. Sementara peluang penurunan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada bulan September naik tipis menjadi hampir 52%, dari 48,7% yang terlihat sebelum data dirilis, menurut FedWatch Tool dari CME Group.

Secara terpisah, jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran mencapai 219.000. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan perkiraan 218.000 klaim baru.

Ketidakpastian atas kebijakan moneter, ditambah dengan banyaknya penerbitan obligasi Treasury baru telah mengangkat imbal hasil US Treasury. Alhasil, pasar saham tertekan. 

Peningkatan imbal hasil obligasi biasanya mencerminkan ekspektasi akan suku bunga yang lebih tinggi. Ini berarti pembiayaan yang lebih mahal dan margin keuntungan yang lebih kecil bagi perusahaan.

“Pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah belum tentu berarti negatif karena kita masih berada dalam pola pertumbuhan, dan kabar baiknya adalah inflasi yang diukur dengan PCE direvisi turun yang akan membantu meringankan tekanan di pasar obligasi dan dapat menyebabkan saham menjadi stabil," kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities kepada Reuters.

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Kompak Anjlok, Begini Strategi Bagi Investor

Indeks acuan S&P 500 berada di jalur penurunan mingguan terbesar dalam enam minggu terakhir. Sementara saham blue-chip Dow Jones ditutup pada level terendah dalam empat minggu pada hari Rabu.

Komentar hawkish dari para pengambil kebijakan juga telah mengurangi sentimen risiko. Para pelaku pasar akan menilai pernyataan Presiden Fed New York John Williams dan Presiden Fed Dallas Lorie Logan hari ini.

Komponen Dow, Salesforce, memperkirakan laba dan pendapatan kuartal kedua di bawah perkiraan karena lemahnya pembelanjaan klien pada produk cloud dan bisnis perusahaan. Harga saham Salesforce melorot 16,4% dalam perdagangan pra-pasar.

Sementara itu, harga saham HP naik 4,7% setelah mengalahkan perkiraan Wall Street untuk pendapatan kuartal kedua pada hari Rabu. Harga saham Tesla naik 1,5% setelah Reuters melaporkan perusahaan tersebut sedang bersiap untuk mendaftarkan perangkat lunak 'Full Self-Driving' di China.

Setelah Amerika Serikat beralih ke penyelesaian perdagangan yang lebih cepat untuk sekuritas dari T+2 menjadi T+1, para pelaku pasar melaporkan beberapa hambatan dalam pemrosesan, meskipun secara keseluruhan pergerakan tersebut berjalan lancar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati