KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie menyoroti proyeksi kebutuhan listrik global untuk data center. Lonjakan permintaan energi ini dinilai membuka peluang strategis bagi Indonesia. Stella membeberkan,
International Energy Agency mencatat penggunaan listrik data center global meningkat tajam, di mana tahun 2025 konsumsi listrik data center mencapai 485 triliun watt hours (TWh). Angka tersebut diproyeksikan melonjak hingga 96% atau 945 TWh pada 2030, di mana porsi untuk AI fokus data center membengkak dari 155 TWh menjadi 465 TWh.
Baca Juga: Rittal Perkuat Kapabilitas Engineering di Indonesia, Bidik Peluang dari Data Center "Jadi dari sekarang penggunaan listrik untuk data center itu sekitar 1,5% dari listrik dunia, akan meningkat ke 3%, dua kali lipatnya. Tapi ada satu yang sangat penting sekali, ini adalah melihat
demand distribusinya. Distribusinya tidak merata," ujarnya di acara
IndoEBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Kamis (3/9/2026). Stella mengungkapkan, ketersediaan Energi Terbarukan (EBT) bakal menjadi penentu daya saing Indonesia dalam menarik arus modal masuk. Pasalnya, tren global memperlihatkan adanya tekanan sosial dan regulasi yang menuntut fasilitas data center beroperasi dengan pasokan listrik yang bersih dan ramah lingkungan. "Selain secara teknis ini memang energi terbarukan yang akan naik, tetapi juga kita bisa melihat, kita juga tahu bahwa akan ada tekanan sosial, bahwa tidak boleh lagi data center menggunakan f
osil fuel. Sehingga energi terbarukan itu akan menjadi pemain utama sebagai pemasok listrik untuk data center," ungkapnya. Guna menangkap potensi pasar ASEAN yang turut melonjak empat kali lipat pada 2030, Stella bilang, Indonesia dinilai perlu merumuskan peta jalan pasokan EBT yang presisi.
Baca Juga: Strategi LG Sinar Mas Kembangkan Bisnis Data Center, Lirik Potensi Ekspansi Regional Ketersediaan lahan yang luas dan pasokan air yang melimpah menjadi modal dasar penting untuk mendukung operasional pusat data. "Apa sebenarnya yang data center butuhkan? Data center membutuhkan teknologi, data center membutuhkan kebijakan, pembiayaan, infrastruktur seperti listrik yang stabil, energi yang berkelanjutan, lahan dan air yang cukup, dan juga membutuhkan talenta," imbuhnya. Lebih lanjut, Stella menegaskan pentingnya tindakan yang cepat dan menyusun strategi agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton di era transformasi digital. Penguasaan rantai pasok energi data center menjadi dasar demi menjaga kedaulatan ekonomi nasional.
"Kalau kita tidak serius terhadap energi terbarukan kita, dan menghitung bagaimana kita bisa mempunyai kelebihan energi terbarukan untuk data center dari global masuk dibangun di Indonesia, kita akan kalah dan kita akan tersingkirkan di dunia yang terus menerus didominasi oleh
artificial intelligence," pungkasnya.
Baca Juga: Akal Imitasi Mengerek Bisnis Data Center Untuk diketahui, berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, potensi pasar data center di kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan menembus US$ 800 miliar hingga 2030. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News