Wanti-wanti Dampak Penurunan Populasi Kelas Menengah Berisiko Lemahkan Ekonomi RI



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengingatkan penurunan jumlah kelas menengah pada 2025 menjadi 46,7 juta orang dari sebelumnya 47,85 juta perlu diwaspadai.

Menurutnya, kelas menengah merupakan penggerak utama konsumsi sekaligus penopang pembiayaan pembangunan melalui pajak.

“Penurunan jumlah kelas menengah patut dicemaskan karena konsumsi mereka menyumbang porsi besar dari total konsumsi rumah tangga dan menjadi motor pertumbuhan konsumsi nasional,” ujar Josua kepada Kontan, Minggu (8/2/2026).


Ia menjelaskan, ketika basis kelas menengah menyusut, permintaan domestik menjadi lebih rapuh dan mudah melambat saat terjadi guncangan ekonomi.

Selain itu, kelas menengah juga berperan dalam mendorong tata kelola yang lebih baik, menjaga kohesi sosial, serta menjadi sumber penting penerimaan pajak untuk membiayai layanan publik dan investasi produktif.

“Jika jumlah kelas menengah mengecil sementara kelompok menuju kelas menengah bertambah, pertumbuhan ekonomi mungkin tetap terlihat, tetapi kualitasnya kurang kokoh,” kata Josua.

Kondisi ini membuat semakin banyak rumah tangga berada di zona rentan, yang dapat menekan optimisme, mengurangi kemampuan menabung dan berinvestasi, serta membuat konsumsi lebih sensitif terhadap kenaikan harga dan ketidakpastian kerja.

Josua menambahkan, fenomena kemiskinan yang menurun tetapi kelas menengah menyusut dapat terjadi karena jalur mobilitas ekonomi yang tidak simetris.

Banyak rumah tangga berhasil keluar dari kemiskinan, tetapi berhenti di kelompok menuju kelas menengah, sementara sebagian kelas menengah dapat turun kembali saat menghadapi guncangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat kemiskinan pada September 2025 turun menjadi 8,25% atau sekitar 23,36 juta orang. Namun, menurutnya, penurunan kemiskinan tidak otomatis meningkatkan jumlah kelas menengah.

“Masuk ke kelas menengah itu sulit, dan kelompok ini juga tidak kebal terhadap guncangan, sehingga diperlukan perlindungan sosial yang lebih efektif,” jelasnya.

Ia menilai akar persoalan struktural berkaitan dengan kualitas pekerjaan. Meski lapangan kerja bertambah, banyak pekerjaan masih berproduktivitas rendah, terkonsentrasi di sektor pertanian dan jasa bernilai tambah rendah, serta didominasi sektor informal. Akibatnya, upah dan kepastian kerja belum cukup kuat untuk mendorong mobilitas menuju kelas menengah.

Hal ini menjelaskan mengapa konsumsi agregat tetap tumbuh, misalnya konsumsi rumah tangga meningkat 4,98% pada 2025 dan menyumbang lebih dari separuh PDB, tetapi manfaatnya tidak merata dan tidak selalu mengangkat kelas menengah.

Tekanan biaya hidup juga meningkat seiring naiknya ambang kesejahteraan. Garis kemiskinan pada September 2025 tercatat Rp 641.443 per kapita per bulan, naik 5,30% dibanding Maret 2025. Dengan porsi kebutuhan makanan yang dominan, rumah tangga di sekitar batas kelas menengah mudah terdorong turun jika kenaikan pendapatan kalah cepat dari kenaikan biaya hidup.

Situasi ini diperkuat oleh struktur ketenagakerjaan yang masih didominasi sektor informal. Pada November 2025, pekerja informal mencapai 57,70% dengan rata-rata upah buruh sekitar Rp 3,33 juta, sehingga banyak rumah tangga rentan terhadap fluktuasi pendapatan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Josua menilai pemerintah perlu menggabungkan strategi penciptaan pekerjaan produktif dengan penguatan perlindungan sosial serta peningkatan layanan publik.

“Prioritasnya adalah meningkatkan produktivitas dan memperluas pekerjaan berupah layak kelas menengah, sekaligus memperkuat perlindungan sosial agar rumah tangga tidak mudah turun kelas,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebijakan industri dan investasi perlu diarahkan pada sektor yang mampu menciptakan pekerjaan berupah lebih tinggi, memperkuat ekosistem usaha, serta memperluas pelatihan keterampilan sesuai kebutuhan pekerjaan modern.

Selain itu, kualitas layanan publik terutama pendidikan dan kesehatan juga perlu ditingkatkan agar keluarga memiliki jalur naik kelas yang nyata dan menjaga dukungan kelas menengah terhadap pembiayaan publik melalui pajak.

Selanjutnya: Pendapatan Turun, Kerugian JGLE Membengkak 74,18% Jadi Rp 46,4 Miliar pada 2025

Menarik Dibaca: 6 Alasan Tidur Bisa Bikin Berat Badan Turun yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News