Wapres ingatkan pelaku pasar modal syariah mitigasi risiko perdagangan online



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan teknologi online trading system (sistem perdagangan secara daging) yang terus berkembang harus dapat dimanfaatkan oleh para pelaku industri pasar modal syariah. Apalagi menurutnya, ini menjadi salah satu potensi bagi pasar modal syariah di Indonesia terus berkembang.

Meski begitu, Ma'ruf pun mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi turut memiliki risiko dan konsekuensi tersendiri yang harus diantisipasi.

"Pelaku industri perlu melakukan mitigasi berbagai risiko yang mungkin akan timbul dari pemanfaatan teknologi termasuk dalam online trading di sektor pasar modal syariah," ujar Ma'ruf saat saat peresmian Nama dan Logo baru PT Danareksa Sekuritas sekaligus Peluncuran Syariah Online Trading System (SOTS), Senin (7/12).


Baca Juga: Wapres RI: Pasar modal syariah dapat mendorong ekonomi nasional

Mengingat bisnis pasar modal berbasis pada kepercayaan, Ma'ruf pun berpendapat bahwa kepercayaan masyarakat harus terus dijaga. Menurutnya, sebagai investor, masyarakat harus dilindungi dan menjadi prioritas utama. Dia pun meminta agar masyarakat mendapat edukasi dan literasi tentang pemanfaatan layanan beserta risiko-risiko yang akan dihadapi.

"Pelaku industri pasar modal syariah harus memperkuat infrastruktur sistem online trading ini dengan tata kelola yang baik. Kepastian keamanan sistem harus terus menjadi perhatian dan terus disempurnakan," ujar Ma'ruf.

Adapun, Ma'ruf mengatakan bahwa pasar modal syariah merupakan salah satu subsektor dalam industri keuangan syariah yang berfungsi sebagai intermediasi sirkulasi modal dan berpotensi untuk mendorong perekonomian nasional.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia dan BPS di 2019, Ma'ruf menyebut bahwa kontribusi aset pasar modal syariah mencakup sahan syariah, reksadana syariah dan sukuk mencapai 29% atau Rp 4.569 triliun, sementara kontribusi kapitalisasi saham syariah mencapai 24% atau Rp 3.745 triliun dari total PDB 2019 yang senilai Rp 15.833 triliun.

Baca Juga: Mandiri Syariah catat pertumbuhan transaksi bulan QRIS sebesar 32%

OJK juga mencatat pada Oktober 2020, nilai kapitalisasi pasar saham syariah mencapai Rp 3.01 triliun atau 51,4% dari seluruh kapitalisasi pasar modal Indonesia sebesar Rp 5.957 triliun.

Dia juga mengatakan pertumbuhan investor saham syariah terus meningkat dimana sejak 2016 rata-rata pertumbuhan per tahun mencapai 63%. Saat ini terdapat 81,413 investor saham syariah, dimana 26% di antaranya adalah investor syariah aktif.

Nilai transaksi pun terus meningkat signifikan, dari yang hanya Rp 920 miliar pada 2016 menjadi Rp 3.582 miliar pada Oktober 2020. Tak hanya itu, volume dan frekuensi transaksi juga terus mengalami peningkatan.

Menurut Ma'ruf pasar modal syariah berkontribusi merata pada sektor perekonomian. Dia menjelaskan sektor terbesar saham syariah adalah perdagangan, jasa dan investasi sebesar 28%, sektor properti, real estate dan konstruksi mencapai 16% dan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi mencapai 13%.

Selanjutnya: OJK akan menaikkan modal inti fintech lending dari Rp 2,5 miliar jadi Rp 15 miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi