KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Warga Lebanon yang mengungsi akibat perang mulai kembali ke kota dan lingkungan tempat tinggal mereka pada Jumat (17/4), setelah gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku. Namun, banyak warga menemukan rumah mereka hancur atau tidak lagi layak dihuni. Sebagian besar juga masih ragu untuk menetap kembali karena khawatir gencatan senjata antara Hezbollah dan Israel sewaktu-waktu bisa runtuh. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata tersebut pada Kamis (16/4), seraya menyebut bahwa Lebanon dan Israel akan berupaya mencapai perjanjian jangka panjang.
Meski demikian, gencatan senjata masih menyisakan banyak pertanyaan. Kesepakatan itu tidak mewajibkan Israel menarik pasukannya dari wilayah selatan Lebanon yang diduduki, sementara Hezbollah menegaskan tetap memiliki “hak untuk melawan”.
Warga Temukan Rumah Hancur
Di pinggiran selatan Beirut yang dikuasai Hezbollah, belum terlihat gelombang besar warga yang kembali. Kawasan tersebut mengalami kerusakan parah setelah lebih dari enam pekan serangan Israel. Tumpukan puing besar menggantikan blok-blok apartemen yang sebelumnya berdiri di kawasan itu.
Baca Juga: PBB: Rata-Rata 47 Perempuan dan Anak Perempuan Tewas Setiap Hari di Gaza Seorang warga bernama Ali Hamza mengatakan rumahnya masih utuh, tetapi kondisi lingkungan membuat banyak orang takut kembali. “Tidak mungkin tinggal dalam kondisi seperti ini, dan dengan bau seperti ini. Sulit untuk benar-benar kembali sekarang, meskipun hidup sebagai pengungsi juga berat,” ujarnya. Ali mengatakan ia hanya datang untuk mengambil barang-barang penting, termasuk buku sekolah anak-anaknya. Menurutnya, keluarga mereka telah kehilangan hampir segalanya dan tidak ingin anak-anak kehilangan tahun ajaran.
Jembatan Hancur dan Kota Tak Lagi Layak Huni
Di Qasmiyeh, Lebanon selatan, warga melintasi penyeberangan darurat di atas Sungai Litani yang dibangun setelah gencatan senjata berlaku pada tengah malam waktu setempat. Israel menghancurkan seluruh jembatan di atas Sungai Litani selama perang, termasuk jembatan utama di Qasmiyeh yang diledakkan sehari sebelumnya. Fadel Badreddine, warga yang mengunjungi kota Nabatieh bersama istri dan anaknya, mengatakan kota tersebut sudah tidak layak dihuni. “Ada kehancuran dan kota ini tidak bisa ditinggali. Kami mengambil barang-barang kami dan akan pergi lagi,” katanya. Ia berharap perang segera berakhir secara permanen agar warga dapat kembali ke rumah dan mata pencaharian mereka.
Ribuan Tewas dan Jutaan Mengungsi
Menurut otoritas Lebanon, perang telah menewaskan lebih dari 2.100 orang dan memaksa sekitar 1,2 juta warga meninggalkan rumah mereka. Israel sebelumnya memerintahkan evakuasi di sebagian besar wilayah selatan Lebanon, pinggiran selatan Beirut, dan daerah lainnya selama perang berlangsung. Mayoritas pengungsi berasal dari komunitas Muslim Syiah, yang juga paling terdampak dalam konflik antara Hezbollah dan Israel pada 2024. Israel menyatakan penghancuran desa-desa di Lebanon selatan bertujuan membentuk “zona penyangga” untuk melindungi wilayah utara Israel dari serangan Hezbollah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ia menolak tuntutan Hezbollah agar Israel menarik pasukan dari wilayah selatan Lebanon.
Baca Juga: Pakistan Kerahkan Jet Tempur Kawal Negosiator Iran Usai Pembicaraan dengan AS Selama perang, Hezbollah meluncurkan ratusan roket dan drone ke Israel. Pemerintah Israel menyebut dua warga sipil dan 13 tentaranya tewas akibat serangan Hezbollah sejak 2 Maret.
Lebanon Diminta Kendalikan Hezbollah
Pemerintah Lebanon, yang selama setahun terakhir berupaya melucuti Hezbollah secara damai, mengecam keputusan kelompok itu untuk membuka serangan dan melarang aktivitas militernya. Kesepakatan gencatan senjata mewajibkan Beirut mengambil langkah nyata untuk mencegah Hezbollah menyerang Israel. Di sisi lain, Israel tetap mempertahankan hak untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu demi membela diri.
Trump mengatakan Lebanon telah sepakat untuk “menangani Hezbollah”, sementara Netanyahu menegaskan tuntutan utama Israel tetap sama, yakni pembubaran Hezbollah. Namun, upaya pemerintah Lebanon untuk melucuti Hezbollah secara paksa berisiko memicu konflik baru di negara yang pernah dilanda perang saudara antara 1975 hingga 1990. Trump juga menyatakan akan mengundang Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Gedung Putih untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut antara kedua negara. Sementara itu, militer Lebanon melaporkan adanya pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, termasuk penembakan sporadis ke sejumlah desa di Lebanon selatan. Pemerintah pun meminta warga menunda kepulangan ke desa dan kota di wilayah selatan untuk sementara waktu.