KONTAN.CO.ID - Warren Buffett kembali membuktikan bahwa kejatuhan pasar saham bukanlah ancaman, melainkan peluang emas untuk mempertebal pundi-kekayaan. Sang "Oracle of Omaha" membangun reputasinya dengan strategi yang berlawanan dari arus utama: menjadi agresif saat investor lain ketakutan. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menjaga stabilitas portofolio Berkshire Hathaway di tengah volatilitas ekonomi global yang kerap melanda pasar modal.
Seni Mengelola Psikologi dan Aksi Jual
Buffett sering menekankan bahwa pasar saham adalah instrumen yang dirancang untuk memindahkan uang dari investor yang aktif dan emosional kepada mereka yang penyabar. Ia sangat mewanti-wanti agar investor menghindari pengambilan keputusan berdasarkan rasa takut, karena aksi jual secara panik (panic selling) seringkali hanya akan mengunci kerugian nyata bagi pemegang modal. Prinsip utamanya adalah tetap tenang dan fokus pada tujuan jangka panjang. Dikutip dari Investopedia, performa indeks S&P 500 dalam jangka panjang membuktikan bahwa meski sering terjadi krisis geopolitik dan resesi, nilai investasi tetap tumbuh secara eksponensial bagi mereka yang tidak tergiur melakukan aksi jual saat harga jatuh.Memanfaatkan Ketakutan Pasar sebagai Amunisi
Salah satu strategi Buffett yang paling fenomenal terjadi saat krisis finansial global tahun 2008. Di saat institusi keuangan besar di Wall Street tumbang, Buffett justru menginvestasikan dana sebesar US$ 5 miliar atau sekitar Rp83,7 triliun (kurs 16.740 per US$). Langkah berani ini memberikan Berkshire Hathaway saham preferen dengan imbal hasil dividen 10% dan waran untuk membeli saham biasa. Transaksi strategis tersebut pada akhirnya memberikan keuntungan bagi Berkshire lebih dari US$ 3 miliar atau sekitar Rp50 triliun. Ini menjadi bukti nyata dari jargonnya yang terkenal: "takutlah saat orang lain serakah, dan serakahlah hanya saat orang lain takut." Tonton: Lawan Narkoba Global, Trump Kumpulkan 34 Pemimpin Militer BaratFokus pada Fundamental dan Cadangan Kas
Dalam menyeleksi aset, Buffett menerapkan pengujian fundamental yang sangat ketat namun logis. Ia mempertanyakan apakah penurunan harga saham di bursa akan mengubah fundamental bisnis perusahaan dalam jangka panjang, seperti jumlah orang yang menggunakan kartu American Express atau mengonsumsi produk Coca-Cola. Jika jawabannya tidak, maka nilai intrinsik bisnis tersebut dianggap tidak berubah meskipun harga sahamnya sedang jatuh. Berikut adalah beberapa prinsip navigasi pasar yang diterapkan oleh Warren Buffett:- Menghindari Market Timing: Buffett memandang upaya memprediksi pergerakan jangka pendek pasar sebagai tindakan sia-sia. Ia lebih memilih skema beli dan tahan (buy and hold) selama puluhan tahun.
- Menjaga Cadangan Kas: Buffett memandang uang tunai sebagai amunisi finansial. Berkshire secara formal berkomitmen menjaga cadangan kas minimal US$ 10 miliar (Rp 158,2 triliun), namun praktiknya seringkali mendekati US$ 20 miliar (Rp 316,4 triliun) sebagai persiapan jika muncul peluang diskon saham besar-besaran.
- Beli Bisnis, Bukan Saham: Fokus utama Buffett adalah pada kualitas manajemen dan daya tahan bisnis, bukan pada fluktuasi grafik harga harian.