Waskita Beton Precast mencairkan pembayaran Rp 5,21 triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Posisi arus kas PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) kembali positif. Hal ini terwujud seiring dengan masuknya sejumlah pembayaran termin ke kantong anak usaha PT Waskita Karya Tbk (WSKT) tersebut.

Sebelum batas waktu paruh waktu tahun ini berakhir, perusahaan ini menerima pembayaran termin senilai Rp 5,21 triliun. "Itu pembayaran dari proyek yang sedang berjalan, Becakayu, Bocimi, Cibitung-Cilincing dan lainnya," ujar Sekretaris Perusahaan WSKT Ratna Ningrum, Senin (23/7).

Pembayaran termin tersebut merupakan piutang tertagih. Pencatatannya pun mengubah posisi arus kas.


Di semester I-2017, arus kas dari aktivitas operasi WSBP minus Rp 1,54 triliun. Namun, karena ada pembayaran yang masuk, posisinya di semester satu tahun ini menjadi surplus Rp 52,39 miliar.

Potensi WSBP mengantongi tambahan pemasukan juga masih terbuka lebar. Sebab, awal pekan ini WSBP mengantongi kontrak baru sekitar Rp 300 miliar. Sehingga, kontrak baru WSBP sekarang bertambah jadi Rp 3,27 triliun dari Rp 2,97 triliun per semester I-2018.

Namun, Ratna belum bersedia mengungkapkan berasal dari mana kontrak baru tersebut. "Belum bisa dipublikasikan karena masih menunggu konsolidasi dengan induk," tambah Ratna.

Sepanjang semester I-2018,  WSBP membukukan pendapatan Rp 3,84 triliun, naik 44% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedang laba bersihnya naik 58% menjadi Rp 690,68 miliar.

Senior Analyst Research Division Anugerah Sekuritas Indonesia Bertoni Rio menyebut, prospek WSBP di tahun ini cukup positif. Sebab, WSBP merupakan perusahaan penunjang induk usaha.  "Pemerintah Indonesia masih fokus pada infrastruktur, sehingga prospeknya masih positif," ujar Bertoni.

Direktur Investa Saran Mandiri Yohanis Hans Kwee menuturkan, sebagai produsen bahan baku konstruksi, perusahaan precast sangat diuntungkan dengan adanya proyek infrastruktur. "Karena saat perusahaan konstruksi dapat dana, mereka dapat uang lebih dulu," kata Hans.

Cuma memang, investor perlu mencermati beberapa sentimen negatif yang muncul belakangan. Hans menyebut, pasar khawatir pada semester kedua tahun ini belanja pemerintah lebih rendah, karena penerimaan pajak yang tak terlalu bagus.

Dia juga menyebut, tekanan pada nilai tukar rupiah bisa menyebabkan pemerintah memangkas belanja infrastruktur, untuk mengurangi impor bahan baku dan barang modal.

Meski ada berbagai risiko tersebut, Hans tetap bullish dan merekomendasikan buy saham WSBP dengan target harga Rp 345 per saham hingga akhir tahun. Kemarin, saham WSBP turun 0,52% ke level Rp 382 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati