Waspada Glaukoma di Setiap Usia: Ancaman Kebutaan yang Mengintai Tanpa Gejala



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret 2026, JEC Group mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap glaukoma. Pekan Glaukoma Sedunia merupakan inisiatif global dari World Glaucoma Association yang diperingati setiap minggu kedua bulan Maret untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya deteksi dini dan pencegahan kebutaan akibat glaukoma, dengan tema tahun ini “Uniting for a Glaucoma-Free World.”

Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik secara perlahan yang salah satunya dapat diakibatkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata. Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg, namun ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen. Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun dan menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.

Baca Juga: Tips Melindungi Mata dari Silau Bahaya Lampu Strobo


Glaukoma sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga kerap baru terdeteksi ketika kerusakan penglihatan sudah berat. Berbeda dengan katarak, kerusakan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan, meskipun sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini.

Di negara berkembang, sekitar 80-90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis, sementara menurut jurnal yang dipublikasikan di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada tahun 2020 dan akan terus meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada tahun 2040 seiring dengan pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup. Di Indonesia, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46% atau 4–5 orang per 1.000 penduduk.

Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service, JEC Group mengatakan, mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. “Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini,” katanya, Selasa (10/3).

Menurutnya, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko glaukoma, seperti riwayat keluarga, diabetes melitus, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi (miopia/hipermetropia), katarak, atau riwayat trauma mata. “Namun, glaukoma tidak hanya menyerang usia lanjut. Pada bayi juga dapat terjadi glaukoma bawaan dengan angka sekitar 1 dari 10.000–20.000 kelahiran menurut American Academy of Ophthalmology (2025), sementara pada orang dewasa penyakit ini sering berkembang tanpa gejala hingga tahap lanjut,” imbuhnya.

Jenis-Jenis Glaukoma yang Perlu Diketahui

Glaukoma bukan satu jenis penyakit tunggal. Terdapat beberapa tipe yang memiliki karakteristik berbeda:

  1. Glaukoma Primer Sudut Terbuka (Primary Open-Angle Glaucoma). Ini adalah jenis yang paling umum. Penyakit berkembang perlahan dan sering tanpa gejala. Penglihatan biasanya menyempit dari sisi samping secara bertahap sehingga sering tidak disadari hingga stadium lanjut.
  2. Glaukoma Primer Sudut Tertutup (Angle-Closure Glaucoma) Jenis ini dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera.
  3. Glaukoma Kongenital. Terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.
  4. Glaukoma Sekunder. Terjadi akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.
Memahami jenis-jenis ini penting karena pendekatan pemeriksaan dan terapinya dapat berbeda pada setiap pasien. Sebagai pusat layanan kesehatan mata terintegrasi, JEC menempatkan penanganan glaukoma sebagai salah satu fokus utama layanan subspesialis dan rujukan nasional.

Deteksi Dini dan Mencegah Kebutaan Permanen

Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), Dokter Mata Subspesialis Glaukoma di JEC Group menjelaskan, kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen, sehingga pencegahan melalui deteksi dini sangat penting.

“Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas.  Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga,” jelasnya.

Menurutnya, diagnosis glaukoma dilakukan melalui beberapa pemeriksaan mata, antara lain pengukuran tekanan bola mata (tonometri), pemeriksaan struktur saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang (visual field test atau perimetri) untuk menilai penglihatan tepi, serta pemeriksaan sudut drainase mata (gonioskopi).

“Kombinasi pemeriksaan ini membantu dokter mendeteksi glaukoma sejak dini, memantau perkembangan penyakit, serta menentukan penanganan yang tepat untuk mengontrol tekanan bola mata dan mencegah kerusakan saraf optik lebih lanjut. Pemeriksaan dini sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga glaukoma, usia di atas 40 tahun, serta penderita penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi,” imbuh Dr. Zeiras.

Pendekatan terapi glaukoma meliputi:

  1. Terapi Medikamentosa. Penggunaan obat tetes mata merupakan terapi awal yang paling umum untuk menurunkan tekanan bola mata dengan cara mengurangi produksi cairan mata atau meningkatkan aliran keluar cairan tersebut. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan obat oral untuk membantu menurunkan tekanan bola mata secara lebih cepat, terutama pada kasus dengan tekanan mata yang sangat tinggi atau sebagai persiapan sebelum tindakan lanjutan.
  2. Terapi Laser. Terapi laser menjadi salah satu pilihan penanganan yang efektif dan minimal invasif. Salah satunya adalah Selective Laser Trabeculoplasty (SLT) yang membantu meningkatkan aliran keluar cairan mata melalui jaringan trabekular sehingga tekanan bola mata menurun. Prosedur ini biasanya berlangsung sekitar 5–10 menit, tidak memerlukan sayatan, dan pasien umumnya dapat kembali beraktivitas setelah tindakan. Selain itu, pada kasus glaukoma sudut tertutup, dokter dapat melakukan Laser Peripheral Iridotomy (LPI) untuk membuat jalur kecil pada iris guna memperlancar aliran cairan mata dan mencegah peningkatan tekanan bola mata secara mendadak.
  3. Tindakan Operasi. Apabila tekanan bola mata tidak dapat dikontrol secara optimal dengan obat maupun terapi laser, tindakan operasi dapat dilakukan untuk membantu mengalirkan cairan mata dan menurunkan tekanan bola mata. Beberapa prosedur yang dapat dilakukan antara lain:
    1. Trabeculectomy, yaitu operasi untuk membuat jalur baru bagi cairan mata agar dapat keluar dari bola mata sehingga tekanan menurun.
    2. Glaucoma Drainage Device (tube implant), yaitu pemasangan alat kecil untuk membantu mengalirkan cairan mata pada kasus glaukoma yang lebih kompleks atau tidak responsif terhadap terapi sebelumnya.
    3. Minimally Invasive Glaucoma Surgery (MIGS), teknik bedah modern dengan sayatan minimal yang bertujuan menurunkan tekanan bola mata dengan risiko komplikasi yang lebih rendah serta masa pemulihan yang lebih cepat.
Dalam beberapa kasus tertentu, operasi katarak juga dapat membantu memperbaiki struktur sudut bilik mata sehingga aliran cairan mata menjadi lebih lancar dan tekanan bola mata dapat menurun.

Sebagai salah satu jaringan rumah sakit mata terkemuka di Indonesia, JEC Group terus berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat serta memperluas akses terhadap layanan kesehatan mata melalui berbagai kampanye edukatif dan fasilitas pemeriksaan yang komprehensif. Komitmen ini juga diwujudkan melalui layanan JEC Glaucoma Service, yang didukung oleh 24 dokter mata subspesialis glaukoma—9 dokter di wilayah Jabodebek dan 15 dokter yang tersebar di Semarang, Purwokerto, Surabaya, Pasuruan, Bali, Makassar, dan Kendari, serta dilengkapi fasilitas dan teknologi modern untuk mendukung deteksi dan penanganan glaukoma secara optimal.

Dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia 2026, jaringan JEC Group juga menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi dan skrining di sejumlah kota di Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi seminar publik dan edukasi kesehatan mata bagi masyarakat, talkshow radio, produksi konten video edukasi mengenai glaukoma, serta skrining pemeriksaan mata gratis termasuk pemeriksaan tekanan bola mata dan layanan pemeriksaan kesehatan mata dasar.

Selain itu, juga diselenggarakan seminar ilmiah bagi tenaga kesehatan seperti apoteker, dokter umum dan doker mata guna meningkatkan pemahaman mengenai deteksi dini, penanganan, serta terapi glaukoma. Melalui berbagai kegiatan ini, serta dengan dukungan teknologi diagnostik modern dan tim dokter subspesialis, JEC Group berharap dapat memperluas jangkauan edukasi kesehatan mata sekaligus mendorong masyarakat untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin guna mencegah kebutaan akibat glaukoma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News