KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah masa libur Lebaran, kualitas kredit konsumer perbankan berpotensi mengalami tekanan. Peningkatan pengeluaran masyarakat selama periode libur panjang kerap berdampak pada kemampuan membayar cicilan kredit setelah Lebaran berakhir. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa kualitas kredit macet masih mencatatkan pemburukan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) mengalami peningkatan, terutama di sektor kredit konsumtif. NPL kredit rumah tangga pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,39%, naik dari 2,02% di Desember 2024. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai potensi kenaikan kredit macet, terutama di sektor konsumsi, masih cukup tinggi setelah Lebaran. Hal ini dipicu oleh ketidaksesuaian antara ekspektasi debitur dengan kondisi ekonomi yang terjadi.
“Debitur sebelumnya mengambil pinjaman untuk kebutuhan Lebaran seperti mudik, kendaraan, atau renovasi rumah. Namun ekspektasi pasca Lebaran tidak selalu sesuai dengan kemampuan bayar,” ujar Bhima kepada kontan.co.id, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: Tabungan Haji Bank Syariah Tetap Tumbuh Pesat di Tengah Tensi Geopolitik Dunia Ia menambahkan, tekanan eksternal seperti krisis energi global turut memengaruhi kondisi ekonomi domestik, termasuk peluang kerja dan tingkat pendapatan masyarakat. “Prospek ekonomi yang berubah membuat bank harus bersiap menghadapi kredit macet yang lebih tinggi,” katanya. Menurutnya, segmen yang paling rentan terhadap kenaikan NPL adalah kredit multiguna dan kredit kendaraan bermotor. Bhima juga memproyeksikan pertumbuhan kredit tahun ini hanya berada di kisaran 7%–8% secara tahunan (yoy), lebih rendah dari target regulator. Meski demikian, sejumlah perbankan menilai risiko tersebut masih dapat dikelola. Direktur Risk Management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Setiyo Wibowo mengatakan pola kenaikan NPL pasca Lebaran memang bersifat musiman dan telah diantisipasi sejak awal. “Kami sudah memperkuat strategi collection sebelum Lebaran, termasuk early engagement kepada nasabah,” ujarnya. Hasilnya, kualitas kredit BTN justru menunjukkan perbaikan. Hingga Maret 2026 atau setelah Lebaran, NPL segmen konsumer tercatat di bawah 2,90%, membaik dibandingkan periode sebelumnya. Menurut Setiyo, perbaikan tersebut didorong oleh efektivitas penagihan (collection), kualitas penyaluran kredit yang lebih baik, serta perbaikan flow rate dan tingkat keterlambatan pembayaran (delinquencies). Ke depan, BTN menargetkan NPL segmen konsumer tetap terjaga di kisaran 2,8%–3,0%, dengan tren stabil, meskipun tetap mewaspadai dinamika makroekonomi dan daya beli masyarakat. “Kami tetap memperhatikan kondisi makro dan daya beli masyarakat sebagai faktor eksternal yang perlu diantisipasi,” imbuh Setiyo. Untuk menjaga kualitas kredit, BTN mengandalkan strategi manajemen risiko secara menyeluruh atau end-to-end risk management. Pendekatan ini mencakup penyaluran kredit yang selektif dan berfokus pada kualitas, bukan sekadar pertumbuhan volume.
Baca Juga: BSI Berhasil Salurkan Rp1,65 Triliun KUR Syariah kepada 11.000 UMKM Selain itu, BTN juga memperkuat proses underwriting berbasis digital dan analitik data, termasuk pemanfaatan machine learning guna meningkatkan akurasi penilaian risiko debitur. Di sisi lain, perseroan mengembangkan sistem collection yang lebih modern dan berbasis data, melalui segmentasi nasabah, early warning system, serta penggunaan digital collection tools. BTN juga memperketat pemantauan portofolio kredit, khususnya pada potensi keterlambatan pembayaran di tahap awal (early delinquency) dan sektor-sektor yang lebih sensitif terhadap tekanan ekonomi. Serupa, PT Allo Bank Indonesia Tbk juga mewaspadai potensi kenaikan kredit bermasalah pasca Lebaran 2026, terutama di segmen konsumsi. Tekanan inflasi dan kenaikan harga energi dinilai menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur. Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja mengungkapkan, potensi kenaikan NPL tahun ini dipicu oleh meningkatnya harga kebutuhan pokok sejak akhir 2025 serta lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. “Bank mengantisipasi potensi kenaikan kredit macet pasca Lebaran, terutama akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan harga minyak dunia yang berpotensi memengaruhi harga BBM di Indonesia,” ujar Ganda. Ia menambahkan, tekanan tersebut berisiko menekan daya beli masyarakat, khususnya pada segmen kredit konsumsi yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi. Meski demikian, Allo Bank masih menunggu rilis laporan keuangan kuartal I-2026 untuk memastikan tren kenaikan kredit macet secara lebih akurat.
Baca Juga: PMK Kopdes Dinilai Dorong Percepatan, Tapi Risiko Moral Hazard Tetap Ada Untuk proyeksi tahun ini, Ganda menyebut pihaknya melihat tingkat NPL cenderung stabil atau sedikit meningkat dibandingkan tahun lalu, seiring dengan dampak inflasi yang masih membayangi.
“Secara konservatif, kami melihat NPL akan sama seperti tahun lalu atau sedikit lebih tinggi,” katanya. Dalam menghadapi kondisi tersebut, Allo Bank menegaskan akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Perseroan akan lebih selektif dengan memfokuskan pembiayaan pada segmen yang relatif tidak terdampak tekanan ekonomi. “Strategi kami tetap prudent, dengan menyalurkan kredit ke segmen yang tidak terlalu terdampak kenaikan harga BBM dan tekanan ekonomi,” jelas Ganda. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News