KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia anjlok tajam pada April 2026 seiring lonjakan impor yang melampaui pertumbuhan ekspor. Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga barang di pasar global juga dinilai memperbesar nilai impor Indonesia melalui tekanan inflasi impor (
imported inflation). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 hanya surplus US$ 89,1 juta, merosot dari surplus US$ 3,32 miliar pada Maret 2026. Bahkan, angka tersebut menjadi surplus bulanan terkecil sejak Mei 2020 atau selama periode surplus 72 bulan berturut-turut. Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman, mengatakan penyusutan surplus perdagangan tidak hanya disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan impor industri, tetapi juga dipengaruhi kenaikan harga barang impor akibat pelemahan rupiah dan tingginya harga komoditas global.
Baca Juga: Wacana MBG untuk Siswa Indonesia di Arab Saudi, Begini Kata Ekonom "Ada peningkatan impor yang lebih cepat daripada peningkatan ekspor. Sebagian besar impor tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri manufaktur, terutama bahan baku produksi, mesin, barang elektrik, dan plastik yang harganya sedang naik di pasar global," ujar Juniman kepada Kontan, Selasa (2/6). Menurutnya, lonjakan impor lebih banyak berasal dari kenaikan nilai (value) ketimbang volume barang yang masuk. Kenaikan harga komoditas dan barang modal di pasar internasional membuat nilai impor melonjak meski volume impor tidak berubah signifikan. Selain kebutuhan industri, impor barang konsumsi juga meningkat, terutama kendaraan listrik, sepeda motor, dan berbagai produk elektronik yang mayoritas berasal dari Tiongkok. "Volume impor sebenarnya tidak banyak berubah, tetapi karena harga barang di pasar global naik dan rupiah melemah, maka nilai impornya ikut melonjak," katanya. Data BPS menunjukkan nilai impor Indonesia selama Januari-April 2026 pertumbuhan impor melonjak 13,40% yoy mencapai US$ 86,51 miliar. Sebaliknya, ekspor hanya tumbuh 5,48% menjadi US$ 92,15 miliar, tetapi kenaikannya tidak mampu mengimbangi laju impor. Akibatnya, selisih antara ekspor dan impor semakin menyempit sehingga surplus perdagangan hanya tersisa sekitar US$ 89,1 juta. Juniman memperkirakan surplus perdagangan Indonesia ke depan masih akan berada pada level yang relatif rendah. Tingginya kebutuhan impor bahan baku dan barang modal diperkirakan akan terus menopang pertumbuhan impor. "Surplus perdagangan tidak akan mudah kembali ke level di atas US$ 3 miliar seperti sebelumnya. Kebutuhan impor migas masih tinggi, harga minyak juga diperkirakan bertahan di kisaran US$ 90 per barel, sementara impor bahan baku dan barang modal masih mendominasi struktur impor Indonesia," ujarnya. Menurut Juniman, sekitar 90% hingga 93% impor Indonesia merupakan bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan industri domestik, sehingga selama aktivitas manufaktur dan konsumsi dalam negeri tetap berjalan, impor diperkirakan akan terus meningkat. Di sisi lain, prospek ekspor juga menghadapi tantangan akibat perlambatan ekonomi global yang menekan permintaan dari negara-negara mitra dagang utama. "Kalau ekspor mengalami perlambatan sementara impor terus meningkat, bukan tidak mungkin surplus perdagangan semakin tipis bahkan berisiko berubah menjadi defisit," kata Juniman. Selain berdampak pada neraca perdagangan, kenaikan volume impor dan
imported inflation juga mulai tercermin pada perkembangan inflasi domestik. Menurut Juniman, kenaikan harga bahan baku impor telah mendorong inflasi inti dan meningkatkan biaya produksi berbagai sektor manufaktur. Ia mencontohkan kenaikan harga plastik, komponen elektronik, hingga berbagai bahan baku industri yang pada akhirnya akan diteruskan ke harga konsumen. "Harga barang elektronik, telepon seluler, kendaraan hingga berbagai kebutuhan rumah tangga berpotensi mengalami penyesuaian harga karena biaya input produksinya meningkat," jelasnya. Tekanan tersebut tercermin dari Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) yang pada Mei 2026 mengalami inflasi 1,44% secara bulanan dan 5,76% secara tahunan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi konsumen yang tercatat 3,08% secara tahunan. Menurut Juniman, tingginya inflasi di tingkat perdagangan besar menunjukkan tekanan biaya produksi masih cukup kuat dan berpotensi diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan.
Karena itu, ia mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai kombinasi antara
imported inflation dan kenaikan harga pangan domestik. Jika kedua faktor tersebut terjadi bersamaan, tekanan inflasi berpotensi meningkat lebih tinggi. "Kalau kenaikan harga pangan seperti beras, bawang, dan daging bertepatan dengan
imported inflation, maka inflasi akan naik lebih tinggi. Karena itu pasokan pangan harus dijaga agar tekanan inflasi tetap terkendali," pungkasnya.
Baca Juga: Data BPS: Perjalanan Wisata Dalam Negeri Meningkat pada Periode Januari-April 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News