Waspada tinggi, Myanmar catatkan 70 kasus virus corona baru



KONTAN.CO.ID - YANGON. Myanmar melaporkan 70 infeksi virus corona baru pada hari Rabu (26/8). Ini menjadi kenaikan harian terbesar di negara Asia Tenggara tersebut dan menandakan kebangkitan virus corona baru baru setelah berminggu-minggu tanpa transmisi domestik yang dikonfirmasi.

Wabah virus corona di Myanmar memang relatif kecil dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, setelah menemukan kasus pertama pada Maret. Sejauh ini, Myanmar hanya mencatatkan enam kematian dan 574 infeksi yang dilaporkan. 

Baca Juga: 4 Negara Asia Tenggara ini temukan virus corona yang 10 kali lebih menular


Otoritas kesehatan setempat mengatakan, virus corona yang terdeteksi kali ini merupakan mutasi dari virus corona yang juga sudah dilaporkan di Malaysia, yang telah ditemukan di Eropa, Amerika Utara, dan sebagian Asia. Bahkan, virus ini dianggap lebih menular ketimbang virus corona sebelumnya.

Kementerian kesehatan tidak mengatakan di mana 70 kasus baru itu ditemukan. Infeksi terbaru terjadi di Sittwe, ibu kota negara bagian Rakhine yang dilanda konflik. Pihak berwenang pun telah memberlakukan penguncian, dengan perintah tinggal di rumah dan jam malam di kawasan tersebut.

Sittwe juga merupakan rumah bagi kamp-kamp dari sekitar 100.000 Muslim Rohingya, yang telah dikurung sejak pecahnya kekerasan pada tahun 2012. 

Warga Rohingya sebagian besar ditolak kewarganegaraannya dan menghadapi pembatasan ketat pada kebebasan bergerak dan akses ke perawatan kesehatan.

Baca Juga: Mengenal D614G, virus corona yang bermutasi jadi 10 kali lebih menular

Myanmar telah mengekang akses internet di sebagian besar wilayah, dengan alasan keamanan, tetapi pekerja kemanusiaan telah mendesak pihak berwenang untuk memulihkan akses internet berkecepatan tinggi untuk memastikan informasi yang dapat diandalkan tersedia untuk membantu mengatasi infeksi yang meningkat.

Dalam upaya membendung penyebaran virus corona, Myanmar sejak akhir Maret menutup pembatasannya untuk semua kecuali warga yang kembali, yang diharuskan menjalani karantina.

Editor: Anna Suci Perwitasari