KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Direktur PT Bank BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum memandang kondisi makroekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 masih berada dalam jalur yang relatif solid, meskipun dinamika global menuntut sikap kehati-hatian yang lebih tinggi. Yuli menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan awal tahun depan. Beberapa indikator utama menunjukkan sinyal positif, mulai dari PMI manufaktur yang masih berada di zona ekspansif, inflasi yang terkendali, hingga konsumsi domestik yang tetap menjadi penopang utama perekonomian. “Indeks keyakinan konsumen juga menunjukkan tren peningkatan. Namun demikian, kami tetap mencermati perkembangan global dan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika ke depan,” ujarnya kepada kontan.co.id.
Dari sisi kebijakan fiskal, Yuli memberikan penilaian moderat. Menurutnya, dampak kebijakan fiskal yang ekspansif, termasuk penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun di perbankan Himbara, cenderung bersifat tidak langsung dan terjadi secara bertahap.
Baca Juga: Pemangkasan Suku Bunga Buka Peluang Perbaikan Kinerja Pergadaian pada 2026 Dalam jangka pendek, kebijakan tersebut berpotensi menurunkan
cost of fund perbankan. Namun dalam jangka panjang, terdapat risiko meningkatnya tekanan inflasi apabila tidak diimbangi dengan belanja pemerintah yang efektif ke sektor riil. “Agar berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal perlu diikuti dengan belanja pemerintah yang langsung menyasar sektor riil. Secara historis, belanja pemerintah pada kuartal pertama juga masih cenderung terbatas,” jelasnya. Terkait daya beli masyarakat, Yuli memproyeksikan 2026 akan menjadi momen perbaikan konsumsi masyarakat, terutama didukung oleh meningkatnya keyakinan konsumen serta momentum Ramadan dan Idulfitri 1448 Hijriah yang jatuh pada kuartal I-2026. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peningkatan konsumsi tersebut bersifat musiman, sehingga kehati-hatian tetap diperlukan dalam membaca tren jangka menengah. Sementara itu, kondisi ekonomi global dinilai masih penuh ketidakpastian. Ketegangan geopolitik, potensi kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, serta tren penurunan harga komoditas menjadi faktor yang berpotensi menahan laju pemulihan ekonomi global. Di sisi lain, penurunan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember 2025 memberikan sinyal awal pelonggaran kebijakan moneter global. Namun, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan masih memerlukan waktu. Dari perspektif domestik, Yuli menilai kondisi politik nasional relatif stabil. Peningkatan IHSG dan arus masuk modal asing sejak kuartal IV-2025 mencerminkan membaiknya optimisme investor. “Selama stabilitas nasional, kepastian hukum, dan konsistensi kebijakan tetap terjaga, aktivitas dunia usaha pada prinsipnya masih dapat berjalan kondusif,” ujarnya. Menghadapi seluruh dinamika tersebut, BCA Syariah menyatakan akan tetap melanjutkan ekspansi bisnis secara agresif pada kuartal I-2026. Strategi ekspansi difokuskan pada penguatan infrastruktur digital melalui pengembangan fitur mobile banking BSya dan BIQ, perluasan jaringan kantor cabang, serta peningkatan penetrasi pasar melalui kolaborasi strategis dan penambahan tenaga pemasar. Dukungan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, tercermin dari penurunan BI7DRR sebesar 125 basis poin sepanjang 2025, serta kebijakan fiskal yang ekspansif dinilai menjadi faktor pendukung optimisme dunia usaha untuk bergerak lebih ekspansif pada 2026.
Baca Juga: Saham Perbankan Diproyeksikan Bangkit pada 2026, Ini Sentimen Pemicunya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News