KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 28-29 Juli 2026, prospek arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia masih berpotensi positif. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan Fed Fund Rate di kisaran 3,5%-3,75% pada pertemuan tersebut. Dengan ekspektasi tersebut, Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman memperkirakan investor asing masih akan melanjutkan aliran dana masuk (inflow) ke aset keuangan domestik, terutama Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun, risiko pembalikan arus modal perlu diwaspadai menjelang September, saat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat. Menurutnya, penguatan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang global. Kondisi ini menurutnya perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan arus modal asing ke negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia. Selain faktor kebijakan moneter global, investor juga masih mencermati perkembangan geopolitik yang berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi. Bahkan, harga minyak berpeluang bertahan di atas US$ 100 per barel. "Bagi negara net importir minyak seperti Indonesia, kondisi ini akan menambah beban fiskal sehingga investor juga akan semakin mencermati kondisi tersebut," jelasnya kepada Kontan, Minggu (26/7/2026). Di sisi domestik, Juniman menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi faktor yang diperhatikan investor asing. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan mengalami perlambatan, sehingga investor masih akan bersikap selektif dalam menempatkan dana.
Waspadai Outflow Asing Agustus-September, Rupiah Dibayangi Tekanan Kebijakan The Fed
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 28-29 Juli 2026, prospek arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia masih berpotensi positif. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan Fed Fund Rate di kisaran 3,5%-3,75% pada pertemuan tersebut. Dengan ekspektasi tersebut, Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman memperkirakan investor asing masih akan melanjutkan aliran dana masuk (inflow) ke aset keuangan domestik, terutama Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun, risiko pembalikan arus modal perlu diwaspadai menjelang September, saat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat. Menurutnya, penguatan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang global. Kondisi ini menurutnya perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan arus modal asing ke negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia. Selain faktor kebijakan moneter global, investor juga masih mencermati perkembangan geopolitik yang berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi. Bahkan, harga minyak berpeluang bertahan di atas US$ 100 per barel. "Bagi negara net importir minyak seperti Indonesia, kondisi ini akan menambah beban fiskal sehingga investor juga akan semakin mencermati kondisi tersebut," jelasnya kepada Kontan, Minggu (26/7/2026). Di sisi domestik, Juniman menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadi faktor yang diperhatikan investor asing. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan mengalami perlambatan, sehingga investor masih akan bersikap selektif dalam menempatkan dana.
TAG: