KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada pekan depan. Sepanjang pekan ini, rupiah bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah dan sempat mendekati level Rp 18.200 per dolar AS. Melansir Bloomberg pada Jumat (30/10/2026), kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,06% secara harian menjadi Rp 18.147 per dolar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah 0,37% dari posisi Rp 18.080 per dolar AS pada Jumat (23/10/2026) pekan lalu. Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor hari ini melemah 0,05% secara harian menjadi Rp 18.138 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor melemah 0,38% dari posisi Rp 18.069 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.
Baca Juga: Laba Chandra Asri (TPIA) Anjlok 78,43% Jadi US$ 279,81 Juta hingga Kuartal III-2026 Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memandang ketegangan politik di Indonesia yang berlanjut di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai kota besar sejak awal Oktober turut menambah ketidakpastian ekonomi Indonesia. Menurut dia, aksi demonstrasi tersebut mencerminkan ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penanganan kebakaran hutan, persoalan lingkungan, serta penggunaan anggaran negara untuk berbagai program pemerintah. "Oleh karena itu, perkembangan politik ini perlu diperhatikan karena stabilitas politik memiliki hubungan erat dengan kepercayaan investor dan kondisi perekonomian nasional," ujar Ibrahim, Jumat (30/10/2026). Ibrahim bilang jika situasi terus berlarut-larut, tekanan terhadap rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), investasi, dan perekonomian Indonesia berpotensi meningkat. Selain faktor politik, Ibrahim menyoroti kekhawatiran inflasi menjelang pengumuman data inflasi Oktober pada pekan depan. Inflasi menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat mempengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok berpotensi menekan daya beli masyarakat. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi serta harga barang di dalam negeri. Sementara itu, dari luar negeri data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, yang tidak mencakup komponen makanan dan energi, naik 0,3% secara bulanan. Secara tahunan, inflasi PCE inti meningkat menjadi 3,1% pada Agustus, dari 3,0% pada bulan sebelumnya, sesuai dengan perkiraan pasar. Di sisi lain, produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) pada kuartal III-2026 tumbuh 3,4% secara tahunan, melampaui perkiraan sebesar 3,2% dan meningkat dibandingkan pertumbuhan 2,2% pada kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Daya Bumi Advisory Dorong Peningkatan Literasi Investasi "Hal tersebut memperkuat ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember, CME FedWatch Tool bahkan menunjukkan probabilitas kenaikan sebesar 83%," tambahnya Untuk pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 18.000-Rp 18.320 per dolar AS. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News