WhatsApp Sebut Rusia Coba Blokir Total Layanan, Ada Apa?



KONTAN.CO.ID - Rusia telah berupaya untuk “memblokir sepenuhnya” layanan WhatsApp di dalam negeri, kata juru bicara perusahaan milik Meta Platforms itu kepada Reuters pada Rabu (11/2/2026).

Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya Moskow mempromosikan platform buatan dalam negeri serta memperketat kontrol atas ruang internetnya.

Perselisihan antara Rusia dan perusahaan teknologi asing memanas sejak invasi Moskow ke Ukraina pada Februari 2022.


Baca Juga: Bursa Korsel Cetak Rekor Tertinggi Kamis (12/2), Emiten Chip Ikuti Reli Wall Street

Otoritas Rusia kini mendorong penggunaan aplikasi pesaing yang didukung negara bernama “MAX”, yang oleh para pengkritik disebut berpotensi digunakan untuk melacak pengguna. Media pemerintah Rusia membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak benar.

WhatsApp menyatakan pemblokiran itu merupakan bagian dari upaya Rusia untuk mengalihkan pengguna ke “aplikasi pengawasan milik negara”.

“Kami terus melakukan segala yang kami bisa untuk menjaga agar pengguna tetap terhubung,” kata perusahaan tersebut.

Menanggapi kemungkinan kembalinya WhatsApp di Rusia, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada kantor berita negara TASS bahwa hal itu bergantung pada kepatuhan Meta terhadap hukum Rusia.

Baca Juga: Bursa Asia Cetak Rekor Kamis (12/2), Data Tenaga Kerja AS Dongkrak Dolar

“Ini kembali pada soal pemenuhan legislasi. Jika korporasi Meta memenuhi hal tersebut dan menjalin dialog dengan otoritas Rusia, maka ada kemungkinan tercapai kesepakatan,” ujar Peskov dalam video yang dipublikasikan pada Rabu.

“Jika perusahaan (Meta) bersikap tanpa kompromi dan tidak menunjukkan kesiapan untuk menyesuaikan diri dengan undang-undang Rusia, maka tidak ada peluang.”

Financial Times sebelumnya melaporkan bahwa otoritas Rusia telah menghapus aplikasi pesan terenkripsi tersebut yang memiliki sekitar 100 juta pengguna di Rusia dari daftar daring yang dikelola Roskomnadzor, badan pengawas komunikasi negara.

Kremlin tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Baca Juga: Bitcoin Terus Anjlok, Pakar Buka Suara: Haruskah Investor Jual Sekarang?

Tahun lalu, Rusia mulai membatasi beberapa panggilan di WhatsApp dan Telegram, dengan menuduh platform asing menolak berbagi informasi dengan penegak hukum terkait kasus penipuan dan terorisme.

Pada Desember, Rusia juga memblokir aplikasi panggilan video FaceTime milik Apple.

Pendiri Telegram asal Rusia, Pavel Durov, sebelumnya menyatakan komitmennya untuk melindungi kebebasan berbicara dan privasi pengguna.

Selanjutnya: IHSG Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Kamis (12/2)

Menarik Dibaca: IHSG Lanjut Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Kamis (12/2)