WHO Menyatakan Wabah Cacar Monyet Naik Status Jadi Darurat Kesehatan Global



KONTAN.CO.ID - JENEWA. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan wabah cacar monyet yang menyebar dengan cepat merupakan keadaan darurat kesehatan global.

Mengutip Reuters, Minggu (25/7), Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, status kewaspadaan WHO terhadap wabah cacar monyet telah naik ke level tertinggi.

Status keadaaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC) yang disematkan WHO dirancang untuk memicu respons internasional yang terkoordinasi dan dapat membuka pendanaan untuk berkolaborasi dalam berbagi vaksin dan perawatan.


Baca Juga: Biden Says He is "Doing Well," Working after Testing Positive for Covid

Anggota komite ahli yang bertemu pada hari Kamis untuk membahas rekomendasi potensial terbagi atas keputusan tersebut, dengan sembilan anggota menentang dan enam mendukung deklarasi tersebut. Hal ini mendorong Tedros untuk memecahkan kebuntuan sendiri, katanya kepada wartawan.

"Meskipun saya menyatakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, untuk saat ini wabah yang terkonsentrasi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria, terutama mereka yang memiliki banyak pasangan seksual," kata Tedros dalam jumpa pers di Jenewa.

"Stigma dan diskriminasi bisa sama berbahayanya dengan virus apa pun," tambahnya.

Dia mengatakan risiko cacar monyet - yang menyebar melalui kontak dekat dan cenderung menyebabkan gejala seperti flu dan lesi kulit berisi nanah - adalah moderat secara global, kecuali di Eropa, di mana WHO menganggap risikonya tinggi.

Gedung Putih mengatakan deklarasi itu adalah "seruan untuk bertindak bagi komunitas dunia untuk menghentikan penyebaran virus ini." ujar Raj Panjabi, direktur kantor kesiapsiagaan pandemi Gedung Putih.

Menurutnya, tanggapan internasional yang terkoordinasi sangat penting untuk menghentikan penyebaran penyakit dan melindungi masyarakat dengan risiko terbesar tertular.

Sebelumnya, Tedros biasanya mendukung rekomendasi komite ahli, tetapi dua sumber mengatakan kepada Reuters sebelumnya pada hari Sabtu mengatakan dia kemungkinan telah memutuskan untuk mendukung tingkat siaga tertinggi karena kekhawatiran tentang meningkatnya tingkat kasus dan kekurangan pasokan vaksin dan perawatan.

Baca Juga: Terus Menyebar, WHO Catat Ada 14.000 Kasus Cacar Monyet di 71 Negara

Sejauh tahun ini, ada lebih dari 16.000 kasus cacar monyet di lebih dari 75 negara, dan lima kematian di Afrika.

Penyakit virus telah menyebar terutama pada pria yang berhubungan seks dengan pria dalam wabah baru-baru ini, di luar Afrika di mana penyakit itu endemik.

Pakar kesehatan menyambut baik keputusan WHO yang mengeluarkan deklarasi PHEIC yang selama ini hanya diterapkan pada pandemi virus corona dan upaya pemberantasan polio yang terus dilakukan.

"Hasil yang tepat sudah jelas - tidak menyatakan keadaan darurat pada saat ini akan menjadi kesempatan bersejarah yang terlewatkan," kata Lawrence Gostin, seorang profesor di Georgetown Law di Washington, DC yang menyebut keputusan itu berani secara politis.

Josie Golding, kepala epidemi dan epidemiologi di Wellcome Trust mengatakan, keputusan itu akan membantu menahan penyebaran penyakit virus. 

"Kita tidak bisa terus menunggu penyakit meningkat sebelum kita melakukan intervensi," katanya.

Rapat Juni

WHO dan pemerintah nasional telah menghadapi tekanan kuat dari para ilmuwan dan pakar kesehatan masyarakat untuk mengambil tindakan lebih lanjut terhadap cacar monyet.

Kasus penyakit virus ini membengkak sejak komite pertama kali bertemu pada akhir Juni, ketika hanya ada sekitar 3.000 kasus.

Pada saat itu, kelompok ahli sepakat untuk mempertimbangkan kembali posisi mereka pada deklarasi darurat jika wabah meningkat.

Salah satu masalah utama yang mendorong penilaian ulang adalah apakah kasus akan menyebar ke kelompok lain, terutama anak-anak atau orang lain yang rentan terhadap virus pada wabah sebelumnya di negara-negara endemik.

Pada hari Jumat, Amerika Serikat mengidentifikasi dua kasus cacar monyet pertama pada anak-anak.

Pejabat WHO mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka sedang menjajaki kemungkinan penyebaran virus melalui mode penularan baru.

Editor: Herlina Kartika Dewi