WHO: Teori kebocoran laboratorium tidak disengaja terkait COVID-19 harus diselidiki



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO Dr Soumya Swaminathan menyerukan upaya ilmiah global berbasis bukti untuk menelusuri asal-usul COVID-19.

Seruan Swaminathan itu di tengah permainan politik yang sedang berlangsung dalam persaingan kekuatan global yang berpusat di sekitar China, tempat virus pertama kali terdeteksi.

“Saya pikir, politik sama sekali tidak memiliki tempat dalam hal ini karena ilmu di balik ini akan menjadi penting bagi kita semua, terlepas dari negara mana kita tinggal,” kata Swaminathan kepada Channel News Asia, Senin (23/8).


Komentarnya muncul setelah pakar WHO Peter Ben Embarek, yang memimpin misi internasional ke China pada Februari tahun ini, mengatakan, para peneliti China telah menekan timnya untuk tidak mengaitkan asal mula pandemi dengan laboratorium penelitian di Wuhan.

Swaminathan mengakui, teori kebocoran laboratorium yang tidak disengaja harus diselidiki dengan cermat. “Kita tahu, kecelakaan terjadi di laboratorium. Telah terjadi di masa lalu. Itu bisa terjadi lagi,” ujarnya.

Baca Juga: Data dari AS ini menunjukkan COVID-19 bisa infeksi orang yang sudah divaksinasi penuh

Tetapi, dia dengan cepat mengklarifikasi, WHO mengacu pada kebocoran laboratorium yang tidak disengaja selama proses normal mempelajari penyakit menular.

"Saya tidak berpikir, ada bukti sama sekali dari teori konspirasi bahwa virus dibuat khusus yang kemudian dilepaskan pada orang-orang," sebut Swaminathan.

Awal bulan ini, WHO telah mendesak China untuk membagikan data mentah dari kasus COVID-19 pertama. Tetapi, Beijing segera menolaknya dengan menyatakan, seruan untuk lebih banyak data dimotivasi oleh politik daripada sains.

Ketika ditanya, apakah pihak berwenang dan peneliti China harus mengungkapkan lebih banyak informasi, Swaminathan mengatakan: "Kita perlu menghilangkan politik sepenuhnya dari ini dan membiarkan para ilmuwan melanjutkan pekerjaan mereka".

“Kami membutuhkan datanya. Kami membutuhkan lebih banyak penelitian yang harus dilakukan,” katanya.

Dia menambahkan, ilmuwan China telah melakukan cukup banyak pekerjaan tetapi perlu ada penelitian ekstensif untuk mengetahui, apakah ada bukti virus corona baru yang beredar baik pada manusia atau hewan bahkan sebelum kasus pertama yang dilaporkan.

Selanjutnya: China kendalikan wabah terbaru COVID-19 dalam 35 hari, ini strateginya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: S.S. Kurniawan