KONTAN.CO.ID – JAKARTA. World Health Organization menetapkan wabah Ebola di Democratic Republic of the Congo dan Uganda sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional setelah sedikitnya 80 kematian dikaitkan dengan penyakit tersebut. WHO menyebut wabah yang disebabkan oleh virus Bundibugyo itu belum memenuhi kriteria sebagai pandemi global. Namun, lembaga kesehatan PBB tersebut memperingatkan adanya risiko tinggi penyebaran lintas negara, terutama ke negara-negara yang berbatasan darat dengan DRC. Dalam pernyataannya pada Minggu, WHO melaporkan terdapat 80 kematian suspek, delapan kasus terkonfirmasi laboratorium, dan 246 kasus suspek hingga Sabtu di Provinsi Ituri, DRC. Kasus-kasus tersebut tersebar di sedikitnya tiga zona kesehatan, yakni Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu.
Satu kasus juga dikonfirmasi di kota Goma, wilayah timur Kongo, menurut pernyataan kelompok pemberontak M23. Media AS melaporkan sedikitnya enam warga negara Amerika Serikat di DRC telah terpapar virus Ebola, dengan tiga di antaranya dikategorikan sebagai paparan berisiko tinggi. Bahkan, laporan menyebut satu warga AS kemungkinan mulai menunjukkan gejala penyakit tersebut. Namun, Reuters belum dapat memverifikasi informasi itu secara independen.
Baca Juga: Sektor Properti China Belum Pulih, Investasi Turun 13,7% hingga April 2026 Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mengupayakan evakuasi sejumlah warga tersebut, kemungkinan menuju pangkalan militer di Jerman. Satish Pillai, manajer respons Ebola dari Centers for Disease Control and Prevention AS, menolak memastikan apakah ada warga Amerika yang terinfeksi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa risiko penyebaran ke AS masih rendah. CDC juga telah mengaktifkan pusat respons darurat untuk menangani wabah tersebut dan berencana mengirim tambahan personel ke kantor mereka di DRC dan Uganda. Sementara itu, Kedutaan Besar AS di DRC mengeluarkan peringatan kesehatan kepada warga negaranya. Pemerintah AS menegaskan bahwa Provinsi Ituri termasuk wilayah yang tidak disarankan untuk dikunjungi karena keterbatasan layanan darurat di daerah tersebut. “Jangan melakukan perjalanan ke wilayah ini dengan alasan apa pun,” demikian isi peringatan tersebut.
Risiko Penyebaran Internasional Meningkat
Kementerian Kesehatan DRC sebelumnya menyatakan bahwa 80 orang meninggal dunia dalam wabah terbaru yang terjadi di provinsi timur negara itu. WHO memperingatkan wabah ke-17 Ebola di DRC sejak virus tersebut pertama kali diidentifikasi pada 1976 kemungkinan jauh lebih besar dari data awal. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat positif pada sampel awal dan terus meningkatnya jumlah kasus suspek. WHO menyebut wabah kali ini tergolong “luar biasa” karena belum tersedia terapi maupun vaksin spesifik untuk virus Bundibugyo, berbeda dengan strain Ebola-Zaire yang sebelumnya mendominasi wabah di DRC. Menurut WHO, wabah di DRC dan Uganda kini menimbulkan risiko kesehatan masyarakat bagi negara lain, terutama karena telah ditemukan beberapa kasus penyebaran lintas negara. WHO meminta negara-negara terkait mengaktifkan mekanisme penanganan darurat nasional, memperketat pemeriksaan lintas perbatasan, serta melakukan pengawasan di jalur transportasi utama. Di ibu kota Uganda, Kampala, dua kasus Ebola yang tidak saling berkaitan dikonfirmasi pada Jumat dan Sabtu, termasuk satu kematian. Kedua pasien diketahui melakukan perjalanan dari DRC.
Baca Juga: Gempa Magnitude 5,2 Guncang Guangxi China, Ribuan Warga Mengungsi WHO juga mengungkapkan bahwa satu kasus yang sebelumnya dilaporkan positif di Kinshasa, ibu kota DRC, ternyata negatif setelah dilakukan pengujian lanjutan.
WHO Minta Negara Tidak Tutup Perbatasan
WHO menegaskan bahwa individu yang terpapar atau terkonfirmasi virus Bundibugyo tidak boleh melakukan perjalanan internasional, kecuali untuk keperluan evakuasi medis.
Lembaga itu juga meminta isolasi segera terhadap pasien positif dan pemantauan harian terhadap kontak erat selama 21 hari setelah paparan. Meski demikian, WHO mengimbau negara-negara agar tidak menutup perbatasan maupun membatasi perdagangan dan perjalanan internasional secara berlebihan. Menurut WHO, kebijakan tersebut justru berisiko memicu perlintasan ilegal yang sulit dipantau. Hutan tropis lebat di DRC diketahui menjadi reservoir alami virus Ebola. Direktur Jenderal Africa Centres for Disease Control and Prevention, Jean Kaseya, mengatakan pihaknya telah meminta panduan teknis terkait kemungkinan penetapan wabah ini sebagai darurat kesehatan tingkat benua Afrika.