KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) akan melanjutkan perbaikan kinerja dengan memperbanyak populasi ayam petelur pada tahun ini. Direktur Widodo Makmur Unggas Wahyu Andi Susilo mengatakan, langkah yang dilakukan perseroan terutama ialah melalui utilisasi fasilitas produksi menjadi produksi ayam petelur. Hal ini telah dilakukan perseroan sejak tahun lalu, sehingga kontribusi bisnis ayam petelur ke pendapatan total WMUU meningkat 11,76%
year-on-year (yoy) menjadi Rp 57 miliar sepanjang 2025. Dus, lini ini berkontribusi 7,6% terhadap total pendapatan.
“K
ita melakukan diversifikasi terhadap beberapa fasilitas produksi yang tidak terutilisasi atau unutilized, kita swap dari yang sebelumnya kandang broiler, kita isi ayam petelur,” kata Andi dalam paparan publik, Kamis (2/4/2026). Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Ewindo dan UGM Kembangkan Bank Genetik Sayuran Lebih lanjut, ia memaparkan WMUU tengah menyiapkan penambahan modal baru melalui
rights issue senilai 6,1 miliar lembar saham atau sekitar Rp 600 miliar. Rincian dana tersebut, sebesar Rp 400 miliar akan digunakan untuk mengonversi utang menjadi ekuitas (skema
debt to equity). Nah, sisa Rp 200 miliar akan dioptimalkan sebagai modal kerja untuk lanjut meningkatkan utilisasi fasilitas produksi terutama untuk segmen ayam petelur tersebut. “Tahun ini tidak ada belanja modal (capex) baru tetapi akan melanjutkan konversi fasilitas-fasilitas yang ada untuk ayam petelur,” ujar Andi menjawab Kontan. Ia menambahkan, perseroan juga akan melanjutkan efisiensi yang telah dilakukan pada segmen rumah potong. Hal ini juga yang menyebabkan rugi bersih WMUU menyusut 31,1% yoy ke Rp 83,3 miliar pada 2025. Direktur Widodo Makmur Unggas Tri Mahawijaya Herlambang menambahkan, pihaknya juga menargetkan untuk menembus pasar ekspor. Saat ini, WMUU telah mengantongi sertifikasi
animal welfare dari
Singapore Food Agency (SFA) untuk rumah potong ayam (RPA) miliknya. Dengan demikian, perseroan berharap dapat segera mengekspor produk ke Singapura. Terutama, apabila terjadi kekurangan pasokan protein ayam di negara tersebut pada masa mendatang. “Kedua, kita memang beberapa kali melakukan penjajakan dengan beberapa negara di Timur Tengah. Kita masih sedang melakukan
follow up-follow up,” tuturnya. Ia melanjutan, perseroan juga terus mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) meskipun bukan secara langsung, tetapi melalui mitra-mitra MBG yang terlibat. “Kami support MBG melalui mitra-mitra MBG, dalam hal ini UMKM-UMKM yang terlibat di sana,” imbuh dia. Sebagai informasi, sepanjang 2025, penjualan bersih WMUU melonjak 96% yoy dari Rp 378,12 miliar menjadi Rp 740,93 miliar pada tahun lalu. Selain ayam petelur yang menyumbang porsi 7,6% ke pendapatan tersebut, kontributor utama ialah segmen karkas yang menyumbang Rp 643 miliar atau 86,8%. Sementara itu, segmen day old chick (DOC) memberikan Rp 37 miliar atau 5%, pakan berkontribusi Rp 4 miliar atau 0,5%, sedangkan
broiler commercial menyumbang Rp 1 miliar atau baru 0,1%. Direktur Utama Widodo Makmur Unggas Ali Mas'adi melanjutkan, pihaknya melihat industri perunggasan masih memiliki prospek positif tahun ini. Meskipun, tahun lalu, industri menghadapi tantangan seperti f
luktuasi harga, serta perubahan daya beli masyarakat. "Di sisi lain, industri ini masih memiliki potensi yang sangat baik terhadap kebutuhan produk unggas yang terus meningkat, dan juga peran penting industri dalam penyediaan protein hewani," ujar Ali. Meskipun tak merinci target kinerja tahun ini, WMUU optimistis kinerjanya dapat tetap bertumbuh seiring strategi-strategi bisnis yang telah direncanakan.
Baca Juga: Risiko Siber Meningkat, Manajemen Identitas Jadi Kunci Keamanan Korporasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News