KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Beton Tbk (
WTON) mulai menjadikan aspek
environmental, social, and governance (ESG) sebagai salah satu penggerak pertumbuhan bisnis. Strategi tersebut diarahkan untuk membuka akses ke pembiayaan hijau sekaligus membidik proyek yang menawarkan margin lebih baik. Direktur Utama PT Wijaya Karya Beton Tbk Kuntjara mengatakan, penerapan ESG menjadi salah satu pembeda WIKA Beton dibandingkan kompetitor di industri beton. Perseroan saat ini mencatatkan skor ESG sebesar 71 dari 100 berdasarkan penilaian S&P Global. Menurut Kuntjara, capaian tersebut menempatkan WTON dalam jajaran perusahaan dengan peringkat ESG tinggi secara global, termasuk di sektor manufaktur.
Baca Juga: Penjualan SR025 Tenor Lima Tahun Baru 48% dari Target, Tenor 3 Tahun Lebih Diminati "Yang tidak diketahui oleh investor dan yang kompetitor kami tidak punya itu adalah di sektor ESG atau di
green. Jadi kami score ESG-nya saat ini adalah 71," ujar Kuntjara dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9). Dia mengatakan, penguatan ESG bukan hanya ditujukan untuk memenuhi aspek keberlanjutan, tetapi juga diarahkan menjadi
strategic value driver bagi perusahaan. Dengan capaian tersebut, WTON berpeluang memperluas akses terhadap
green financing dan
sustainability financing. Selain itu, perseroan dapat membidik proyek yang mensyaratkan aspek lingkungan dan keberlanjutan. "Ini membuka akses kami kepada
green financing, kemudian ada juga
sustainability financing, dan peluang untuk mendapatkan proyek-proyek yang mensyaratkan aspek
green dan
sustainability," jelasnya. Kuntjara menilai segmen proyek berbasis
green dan
sustainability berpotensi menjadi ruang pertumbuhan baru bagi WTON karena tingkat persaingannya relatif lebih rendah, sementara peluang margin dinilai lebih menarik. "Kami punya keyakinan ini menjadi karakteristik di masa depan, dan akan menjadi
blue ocean karena persaingannya cukup rendah dan marginnya tinggi," katanya.
Baca Juga: Harga Emas Masih Konsolidasi, Berpeluang Kembali Bullish di Akhir 2026 Untuk memperkuat penerapan ESG, WTON menjalankan sejumlah program di sisi operasional. Di antaranya melalui
lean manufacturing untuk mengurangi
waste, pemanfaatan energi terbarukan, serta penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, termasuk material yang berasal dari limbah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Perseroan juga mengembangkan produk beton rendah karbon dan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di sejumlah fasilitas produksinya. Di sisi tata kelola, WTON menerapkan Sistem Manajemen Anti Penyuapan,
whistleblowing system, serta transparansi kinerja ESG melalui ESG Dashboard. Selain ESG, WTON juga tengah melakukan transformasi model bisnis dari produsen beton pracetak menjadi penyedia solusi beton dan infrastruktur terintegrasi. Strategi tersebut mencakup layanan mulai dari tahap perencanaan, produksi, distribusi hingga implementasi di lapangan.
Baca Juga: Harga Emas dan Perak Belum Kembali Bullish, Kenaikan Yield US Treasury Jadi Penahan Adapun hingga 31 Juli 2026, WTON telah membukukan kontrak baru sebesar Rp2,27 triliun. Sektor infrastruktur masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 58,8%, disusul sektor industri 17,1%. Sementara sekitar 24% berasal dari gabungan sektor kelistrikan, properti, pertambangan, dan energi. WTON menargetkan kontrak baru hingga akhir 2026 berada di kisaran Rp3,8 triliun-Rp4 triliun. Untuk mengejar target tersebut, perseroan masih memiliki potensi proyek dalam proses penawaran maupun negosiasi dengan nilai lebih dari Rp1,5 triliun. Ke depan, WTON juga membidik proyek yang sejalan dengan program strategis nasional pada 2027. Beberapa proyek yang menjadi sasaran antara lain pembangunan Giant Sea Wall, pengembangan gas di Maluku, proyek hilirisasi seperti smelter alumina, serta sejumlah proyek jalan tol yang masih berlanjut. Di sisi ekspansi internasional, WTON telah terlibat dalam proyek Metro Manila Subway di Filipina. Perseroan memiliki kontrak jasa
expertise management untuk pengoperasian pabrik segmen tunnel melalui skema joint venture dengan mitra lokal, serta kontrak pengadaan bantalan beton untuk proyek tersebut. Kuntjara mengatakan ekspansi ke luar negeri dilakukan dengan skema asset-light sehingga perseroan tidak perlu mengeluarkan belanja modal besar. Strategi tersebut memungkinkan WTON memanfaatkan keahlian dan sumber daya manusia tanpa mengambil risiko investasi aset yang besar di negara tujuan.
Sementara itu, dari sisi keuangan, WTON mencatatkan pendapatan usaha Rp 1,48 triliun hingga kuartal II 2026. Perseroan juga mencatat perbaikan likuiditas dengan
current ratio meningkat dari 113% menjadi 130,9%. WTON mencatat
gearing ratio 4,6% dan
debt to equity ratio (DER) sebesar 71%. Arus kas juga membaik, dengan posisi kas dan setara kas yang sebelumnya negatif Rp402 miliar pada kuartal II 2025 menjadi negatif Rp68 miliar pada kuartal II 2026. Saldo akhir kas dan setara kas tercatat Rp 343 miliar. Perseroan menyatakan akan terus memperkuat pengelolaan modal kerja, efisiensi operasional, diversifikasi pasar, serta pengembangan produk dan teknologi untuk menjaga pertumbuhan bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News