Wika Beton (WTON) Pangkas Target Kontrak 2026, Siapkan Strategi Kejar Proyek Baru



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) memangkas target perolehan kontrak baru tahun 2026 menjadi Rp 3,8 triliun-Rp 4 triliun. Target tersebut lebih rendah dibandingkan target awal yang dipatok sebesar Rp 5 triliun.

Direktur Utama WTON Kuntjara mengatakan, penyesuaian target tersebut dilakukan sebagai respons terhadap kontraksi yang terjadi di industri konstruksi sekaligus bagian dari strategi perusahaan dalam melakukan efisiensi struktur biaya.

Hingga Juli 2026, WTON baru mengantongi kontrak baru sebesar Rp 2,27 triliun. Untuk mengejar target hingga akhir tahun, manajemen tengah memproses penawaran dan negosiasi sejumlah proyek dengan estimasi nilai lebih dari Rp 1,5 triliun.


Baca Juga: IDPRO: Akusisi dan Konsolidasi Jadi Strategi Penting di Bisnis Data Center

Kuntjara mengatakan, perusahaan saat ini menghadapi beban biaya tetap atau fixed cost sekitar 3%-4%. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap margin laba bersih perseroan yang berada di level 0,07% pada kuartal II 2026.

Karena itu, WTON tetap membutuhkan proyek dengan volume besar untuk menjaga tingkat utilisasi fasilitas produksi, meskipun proyek tersebut memiliki margin yang relatif rendah.

"Jadi di satu sisi kami juga perlu proyek yang volumenya besar, walaupun yang marginnya kecil, itu untuk mengisi utilisasi pabrik kami, untuk menekan atau memikul fixed cost kami agar tidak terjadi inefisiensi," jelas Kuntjara dalam paparannya, Rabu (9/9/2026).

Sejalan dengan strategi tersebut, WTON mulai mengubah bauran proyek yang dibidik. Sektor infrastruktur masih menjadi kontributor utama kontrak baru karena dibutuhkan untuk menjaga utilisasi pabrik.

Namun, perusahaan juga semakin agresif membidik proyek dari sektor industri, pertambangan, dan kelistrikan. Meski ukuran pasarnya relatif lebih kecil, sektor tersebut dinilai menawarkan tingkat persaingan yang lebih rendah dan peluang margin yang lebih baik.

"Walaupun market kuenya enggak besar, tapi di situ persaingannya tidak ketat, di situ menghasilkan kontribusi margin yang lebih baik," imbuhnya.

 
WTON Chart by TradingView

Berdasarkan catatan perusahaan, hingga Juli 2026 sektor infrastruktur menyumbang sekitar 58,83% dari kontrak baru WTON. Sementara proyek dengan dukungan pendanaan swasta berkontribusi 37,70%.

Selain kontrak baru, WTON membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,48 triliun hingga Juli 2026. Pendapatan tersebut berasal dari lini produk beton putar sebesar 47,9%, beton non-putar 34,4%, konstruksi 13,3%, serta jasa 4,4%.

Di tengah upaya mengejar kontrak dan menjaga utilisasi, WTON juga berupaya mempertahankan likuiditas perusahaan. Manajemen akan menjaga arus kas operasional dan memastikan kebutuhan belanja modal atau investasi dapat dibiayai secara internal tanpa bergantung pada utang.

Di sisi lain, WTON tetap mendorong efisiensi operasional dan penguatan daya saing melalui transformasi bisnis. Perusahaan mengembangkan produk beton rendah karbon, memanfaatkan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di sejumlah fasilitas produksi, serta melakukan inovasi untuk meningkatkan efisiensi material dan rantai pasok.

Baca Juga: Implementasi Zero ODOL 2027 Terancam Gagal, Pemerintah Diminta Matangkan Persiapan

WTON juga mencatatkan skor ESG sebesar 71 dari S&P Global Corporate Sustainability Assessment. Skor tersebut meningkat dari 46 pada tahun sebelumnya.

Ke depan, perusahaan menargetkan pertumbuhan yang lebih selektif dengan memperkuat efisiensi, tata kelola, inovasi, serta diversifikasi pasar. Strategi tersebut diharapkan dapat membantu WTON memperbaiki kinerja di tengah tekanan industri konstruksi sekaligus memperkuat daya saing di pasar domestik dan internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News