WIKA dan PTPP geber kontrak baru



JAKARTA. Sepanjang kuartal pertama tahun ini, dua emiten konstruksi pelat merah, PT PP Tbk (PTPP) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), mengantongi kontrak baru senilai total Rp 9,49 triliun.

Perinciannya, PTPP berhasil mengantongi kontrak baru sebesar Rp 4,17 triliun. Jumlah itu setara 13,4% dari target kontrak baru tahun 2016 yang dipatok manajemen senilai Rp 31 triliun. Pencapaian kontrak anyar selama tiga bulan pertama tahun ini telah melewati target perusahaan.

"Kami telah telah melampaui target awal, yaitu sebesar Rp 2,6 triliun," ungkap Direktur Utama, Bambang Triwibowo, dalam keterangan resmi, Kamis (8/4).


PTPP berhasil melewati target tersebut setelah mengantongi kontrak anyar dari proyek Gedung BNI 46 Jakarta senilai Rp 790,5 miliar. Proyek tersebut akan digarap selama 600 hari kalender kerja dan groundbreaking dilaksanakan pada 11 April 2016.

Dengan kontrak carry over tahun sebelumnya senilai Rp 39 triliun, total kontrak yang digarap hingga akhir kuartal pertama tahun ini senilai Rp 43,17 triliun. Sementara WIKA berhasil meraih kontrak anyar sebesar Rp 5,32 triliun di sepanjang kuartal I 2016.

Jumlah tersebut setara 10,20% dari target tahun ini senilai Rp 52,2 triliun. Pencapaian itu juga tumbuh 29,7% dibandingkan kuartal I 2015 senilai Rp 4,1 triliun. Suradi Wongso, Sekretaris Perusahaan WIKA, mengatakan, sebagian besar kontrak masih berasal dari proyek pemerintah yakni 43,5%.

Kemudian proyek swasta berkontribusi 39,7% dan proyek swasta menyumbang 17,8%. WIKA mengharapkan, bisa meraih 40% dari target kontrak baru di separuh pertama tahun ini. Suradi bilang, di semester I 2016, WIKA masih mengandalkan proyek swasta.

Sebab, proyek besar yang dibidik seperti kontrak kereta api cepat atau high speed railway (HSR) Jakarta-Bandung kemungkinan diperoleh pada separuh kedua nanti. "Proyek besar lain seperti pembangkit listrik masih proses tender saat ini," kata Suradi.

Saat ini, , WIKA berpotensi mengantongi kontrak baru setidaknya Rp 600 miliar dari tender sejumlah proyek. Sehingga dalam waktu dekat WIKA berpotensi mengantongi kontrak anyar Rp 5,9 triliun.

Adapun proyek yang diraih WIKA di kuartal I 2016 antara lain kontrak pembangunan pabrik minyak goreng di Sumatera Utara senilai Rp 501 miliar, proyek jaringan gas Prabumulih Rp 296 miliar, proyek strategis Kementerian ESDM, seperti stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di Bekasi.

Analis Buana Capital Michael Ramba dan Suria Dharma dalam riset 21 Maret 2016 memperkirakan, WIKA meraih kontrak kereta api cepat di kuartal kedua tahun ini. Dus, WIKA bisa meraih kontrak baru pada semester I 2016 senilai Rp 22,3 triliun.

Sementara PTPP mengandalkan kontrak baru dari proyek pemerintah. "Proyek pelabuhan dan pembangkit listrik menjadi penyumbang kontrak baru," tutur analis Sinarmas Sekuritas, Bryan Sjahputra, dalam riset pada 16 Maret 2016.

Mengutip Bloomberg, sebanyak 22 dari 23 analis merekomendasikan buy saham PTPP. Satu analis hold. Untuk WIKA, sebanyak 13 dari 25 analis merekomendasikan hold, sementara 12 analis memasang buy. Harga WIKA kemarin menurun 1,13% ke Rp 2.615 per saham. Adapun harga PTPP turun 1,06% menjadi Rp 3.750 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie