KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (
WIKA) terus memperkuat upaya pemulihan kinerja di sepanjang tahun ini melalui peningkatan perolehan kontrak baru. Hingga Agustus 2026, emiten konstruksi pelat merah ini membukukan kontrak baru sebesar Rp 8,69 triliun, tumbuh 65,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perolehan kontrak baru tersebut ditopang terutama oleh sektor infrastruktur dan gedung serta industri penunjang konstruksi. Kedua sektor ini menjadi kontributor terbesar terhadap total kontrak baru WIKA hingga Agustus 2026.
Corporate Secretary WIKA Ngatemin menyampaikan, sektor infrastruktur dan gedung menyumbang kontrak baru senilai Rp 3,17 triliun atau sekitar 36,5% dari total perolehan. Sementara itu, sektor industri penunjang konstruksi berkontribusi Rp 2,97 triliun atau 34,2%. "Komposisi kontrak baru WIKA hingga Agustus 2026 didominasi oleh sektor infrastruktur dan gedung senilai Rp3,17 triliun, atau sekitar 36,5% dari total kontrak baru. Disusul sektor industri penunjang konstruksi senilai Rp2,97 triliun (34,2%), sektor energi dan industrial plant senilai Rp2,12 triliun (24,4%), sektor properti senilai Rp266,74 miliar (3,1%), serta investasi senilai Rp165,70 miliar (1,9%),” ungkap Ngatemin, kepada
Kontan.co.id, Jumat (23/10).
Dalam menyasar proyek baru, WIKA menerapkan seleksi proyek secara ketat dengan mempertimbangkan kualitas dan risiko proyek.
Manajemen juga mengutamakan skema kontrak yang mendukung kepastian pembayaran agar pelaksanaan proyek dapat berjalan lebih terukur. “Perseroan menerapkan strategi project selection secara ketat berbasis four eyes principles, serta mengutamakan jenis kontrak unit price dengan pembayaran uang muka dan monthly progress payment,” paparnya.
Selain seleksi proyek, WIKA memperkuat efisiensi pelaksanaan pekerjaan melalui penerapan lean construction, penguatan tata kelola proyek, serta optimalisasi rantai pasok. Strategi tersebut diarahkan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan proyek sekaligus mendukung hasil yang optimal bagi perusahaan. Di sisi lain, WIKA melanjutkan agenda penyehatan perusahaan yang telah dijalankan sejak 2023 melalui delapan stream penyehatan. Saat ini, perusahaan memusatkan perhatian pada dua strategi utama, yakni penguatan operation excellence dan percepatan financial recovery. Ngatemin menjelaskan, penguatan operation excellence mencakup pembenahan aspek sumber daya manusia, proses bisnis, teknologi, dan tata kelola.
Sementara itu, percepatan pemulihan keuangan ditempuh melalui devestasi aset non core, percepatan penagihan piutang, serta restrukturisasi kewajiban kepada kreditur.
Melalui strategi tersebut, WIKA berupaya memperkuat fundamental bisnis sekaligus memperbaiki kondisi keuangan secara berkelanjutan.
Hingga kini, WIKA belum merilis laporan keuangan kuartal III-2026. Adapun, hingga semester I-2026, pendapatan WIKA tumbuh 7,19% YoY menjadi Rp6,28 triliun, naik dari Rp5,86 triliun pada semester I-2025. Pada saat yang sama, rugi bersih WIKA terccatat sebesar Rp1,48 triliun, menyusut dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 1,66 triliiun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News