WIKA targetkan kontrak baru Rp 52,2 triliun



JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menargetkan kontrak baru tahun 2016 sebesar Rp 52,2 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 106,6% dari target perolehan kontrak baru perseroan pada tahun 2015 yakni sebesar Rp 25,3 triliun.

Suradi Wongso, Sekretaris Perusahaan WIKA mengungkapkan, pertumbuhan target kontrak baru tersebut seiring dengan kehadiran proyek High Speed Rail (HSR) atau kereta api cepat Jakarta-Bandung.

"Kami targetkan kontrak baru dari HSR Rp 17 triliun," kata Suradi di Jakarta, Senin (11/1).


Proyek HSR senilai US$ 5,5 miliar tersebut ditargetkan akan groundbreaking pada 21 Januari mendatang dan akan diresmikan oleh Presiden Jokowi.

Suradi mengatakan, dengan tambahan kontrak carry over tahun lalu sebesar Rp 33 triliun maka total kontrak yang akan digarap (order book) perseroan tahun ini mencapai Rp 86 triliun.

Selain dari proyek HSR, perseroan juga mengincar kontrak baru dari proyek pembangkit listrik senilai Rp 4,5 triliun, jalan tol Rp 3,9 triliun dan proyek luar negeri Rp 2 triliun.

Suradi mengatakan, saat ini perseroan tengah mengincar tiga proyek pembangkit listrik yakni jawa 5, jawa 2 dan PLTU Melabung Aceh 2x 200 MW. " Dari PLTU Melabung kita hanya incar sekitar 10%," kata Suradi.

Sebagian besar kontrak baru tahun ini diincar dari proyek swasta yakni selitar Rp 33,3 triliun atau 63,2%, proyek pemerintah Rp 10,8 triliun dan Proyek BUMN Rp 8 triliun.

Tahun ini perseroan menargetkan penjualana sebesar Rp 26,5 triliun atau tumbuh 23,61% dari tahun 2015 sebesar Rp 21,43 triliun. Sementara laba bersih ditargetkan sebesar Rp 750 miliar.

Sementara belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini ditargetkan sebesar Rp 10,6 triliun dengan asumsi perseroan mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar 4 triliun.

Capex tersebut akan diandalkan dari kas internal sebesar Rp 4,6 triliun dan selebihnya dari eksternal.

Sementara jika tidak mendapat PMN, perseroan hanya akan mengangarkan capex Rp 4,7 triliun. Sebesar Rp 1,7 triliun akan berasal dari kas internal dan selebihnya dari pendanaan eksternal. " Pendanaan ini bisa dari pinjaman bank, MTN, atau obligasi tergantung kondisi pasar," kata Suradi.

Capex tersebut akan digunakan untuk pengembangan usaha sebesar Rp 1,9 triliun, Lalu Rp 5,7 triliun juga akan digunakan untuk pengembangan usaha dengan asumsi mendapat PMN. Sementara Rp 1,6 triliun akan digunakan untuk pengembangan anak usaha.

"Kami akan tambah modal Wika Gedung Rp 200 miliar dan untuk tambah modal proyek HSR Rp 800 miliar," tambah Suradi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie