Wilmar Group lanjutkan pendampingan agronomi secara daring ke petani



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Wilmar Group terus berkomitmen mendampingi petani kelapa sawit dan juga planters (pekebun), yang merupakan lini terdepan usaha perkebunan. Langkah itu dilakukan demi mengawal target produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tahun ini.

Pendampingan agronomi (lingkungan) secara virtual (daring) dilakukan mengingat kunjungan langsung terbatas karena pandemik, sementara La Nina yang diprediksi masih akan berlanjut tahun ini sehingga perlu dicermati dengan baik, untuk menekan dampaknya terhadap produksi kelapa sawit.

Head of Fertilizer Business Wilmar Group, Hendrogiarto Tiwow mengatakan, Pupuk Mahkota tidak hanya menjamin ketersediaan produk, tetapi juga turut mendampingi petani secara agronomi dalam meningkatkan produksi.


Selain itu, pihaknya juga memberikan layanan analisa laboratorium tanah dan daun serta rekomendasi pemupukan secara gratis, terutama kepada perkebunan kelapa sawit rakyat (small holder). Dengan berbagai pendampingan ini, perusahaan berharap produktivitas kelapa sawit rakyat dapat mendekati, bahkan setara dengan skala besar.

Baca Juga: Sultan Sawit Kian Tajir Walau Ada Pandemi, Pelajari Strateginya

“Salah satu fokus pendampingan tahun ini adalah untuk mengantisipasi dampak La Nina,” kata Hendro melalui keterangan resmi, Selasa (12/1).

Head of Agronomy and Technical Support Department PT Wilmar Chemical Indonesia Syaiful Bahri Panjaitan menambahkan, pendampingan secara virtual tersebut dilakukan sejak Maret tahun lalu tepatnya saat pandemi merebak di Indonesia.

Langkah tersebut ditempuh agar pendampingan kepada petani dapat terus dilaksanakan. Sebenarnya La Nina telah terjadi sejak tahun lalu dan diprediksi berlanjut hingga 2021. Tingginya jumlah hari hujan dan curah hujan pada semester kedua 2020 diramalkan berlanjut hingga semester pertama tahun ini.

Hal itu akan mengurangi penyerbukan serbuk sari ke kepala putik akibat keterbatasan polen kering yang akan menyerbuki kepala putik yang siap dibuahi. Sebenarnya, jumlah rerata tandan yang terbentuk di pohon tahun ini tergolong cukup banyak tetapi kemungkinan rasio produksi brondolan terhadap tandan rendah pada semester satu sehingga produksi berpotensi turun.

“Penurunan produksi akan terjadi hampir merata dan diprediksi berlangsung hingga April 2021,” ujar syaiful.

Selanjutnya: Pelindo Marines luncurkan layanan pengangkutan bioenergi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli