Wisawatan Global Khawatir Tiket Pesawat Libur Akhir Tahun akan Lebih Tinggi dari 2019



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wisatawan global tengah khawatir harga tiket pesawat menjelang musim libur Natal akan semakin melonjak di tengah tingginya harga avtur. Harga tiket diperkirakan akan lebih tingi dari periode libur akhir tahun sebelum pandemi Covid-19.

Selain harga avtur, lonjakan tarif pesawat juga didorong oleh tingginya permintaan perjalanan karena balas dendam para wisatawan karena selama pandemi tidak bisa bepergian.

Harga biasanya menyumbang seperempat dari total biaya operasional maskapai. Saat ini, biaya avtur maskapai meningkat meningkat dua kali lipat dari kenaikan harga minyak mentah.  Harga bahan bakar jet atau avtur melonjak karena terjadinya kelangkaan akibat perang Rusia-Ukraina.


Baca Juga: Harga Avtur Masih Tinggi, Ini Strategi Kemenhub untuk Turunkan Tarif Tiket Pesawat

Strategi Rusia membatasi pasokan gas alam ke Eropa telah memicu krisis listrik besar-besara dan mendorong negara barat segera mencari altenatif lain energi seperti diesel atau solar untuk memenuhi kebutuhan energi pemanas ruangan, industri dan untuk pembangkit listrik.

Hal itulah yang jadi biang kerok langkanya avtur. Pasalnya, bahan bakar pesawat tersebut dibuat dari jenis bahan bakar yang sama dengan solar.

Selain itu, industri penerbangan juga tengah dihadapkan dengan tantangan lain dalam melayani tingginya permintaan tiket perjalanan, yakni kurangnya karyawan.

Selama pandemi Covid-19 yang melumpuhkan industri penerbangan, banyak maskapai melakukan pemangkasan karyawan secara besar-besaran.

Di saat pandemi mulai terkendali dan perjalanan kembali dibuka, para wisatawan melakukan balas demdam setelah dua tahun tidak bisa pergi kemana-mana. Sehingga maskapai saat ini kekurangan staf untuk melayani permintaan yang membludak.

Akibatnya, banyak terjadi pembatalan pesawat, antrian check-in yang panjang, dan harga tiket menjulang. Menurut OAS, perusahaan analisis penerbangan,  Kapasitas kursi yang ditawarkan maskapai secara global saat ini 14% di bawah tahun 2019.

Baca Juga: Inflasi Kian Panas, Ekonomi Bakal Lemas

“Harga tiket pesawat ke Eropa dan Amerika dari Asia setidaknya dua kali lipat dari tingkat pra-pandemi karena kapasitas yang terbatas, serta lonjakan harga bahan bakar jet,” kata Mayur Patel, Kepala Asia di OAG seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (4/9).

Menurutnya, harga tiket tidak akan kembali ke level yang sama tahun 2019 paling tidak hingga awal 2023. Ia memperkirakan akan butuh waktu lama agar hiruk pikuk permintaan perjalanan mulai berkurang.

Lonjakan harga avtur paling tinggi terjadi di Eropa karena kawasan ini mengalami krisis energi paling akut. Harga bahan bakar pesawat disana sudah naik sekitar 56% tahun ini. Asia dan AS berada dengan kenaikan tidak jauh di belakang.

Sebagai perbandingan, patokan minyak global, minyak mentah Brent telah meningkat sekitar 21% tahun ini.  Bulan lalu, Fitch Solutions telah menaikkan perkiraan harga avtur tahun ini menjadi  untuk harga avtur US$ 141 per barel. Adapun harga minyak mentah Brent saat ini mendekati US$94 per barel.

"Permintaan yang kuat untuk diesel akan terus menekan produksi bahan bakar penerbangan," tulis Fitch dalam risetnya.

Kilang mengolah minyak mentah menjadi produk minyak bumi melalui proses penyulingan. Bahan bakar seperti solar, minyak tanah dan bahan bakar jet, yang disebut sulingan menengah, berasal dari bagian minyak sulingan yang sama. Jadi ketika permintaan untuk salah satu produk tersebut sangat tinggi, output dari yang lain bisa terganggu.

Daphne Ho, analis senior di konsultan industri Wood Mackenzie Ltd, mengatakan permintaan perjalanan akhir tahun yang lebih kuat dan peningkatan konsumsi minyak tanah untuk pemanas akan mendorong kenaikan avtur lebih lanjut.

Ia bilang, avtur akan terus diperdagangkan dengan harga premium dibandingkan solar pada kuartal keempat.

Baca Juga: Harga Tiket Penerbangan Melonjak, Tarif Umrah Meledak

Cadangan solar sudah sangat rendah pada saat mereka biasanya menumpuk sebelum permintaan puncak selama musim dingin Belahan Bumi Utara. Itu pada gilirannya akan menyebabkan lebih banyak kelangkaan bahan bakar jet, yang berarti hanya satu hal untuk tiket pesawat.

Sementara Hayley Berg, ekonom utama di aplikasi pemesanan perjalanan AS, Hopper, memperkirakan lonjakan permintaan untuk perjalanan liburan dan harga bahan bakar yang lebih tinggi akan mendorong kenaikan harga tiket pesawat pada bulan November dan Desember. "Harga tiket bisa sekitar 20% lebih tinggi dari level 2019," ujarnya. 

Editor: Yudho Winarto