Wismilak tunda rencana perluasan produksi rokok



JAKARTA. Rencana produsen rokok PT Wismilak Inti Makmur Tbk memiliki warehouse  alias pergudangan yang difungsikan untuk melinting rokok kretek, menjadi lebih luas tahun ini bakal tertunda. Sebab, rencana perluasan warehouse di Bojonegoro, Jawa Timur masih terganjal izin.

Alhasil, Surjanto Yasaputera, Sekretaris Korporasi PT Wismilak Inti Makmur Tbk bilang, rencana untuk membelanjakan dana Rp 20 miliar untuk perluasan warehouse  ikut tertunda. "Dananya akan kami belanjakan tahun depan," kata Surjanto kepada KONTAN, Rabu (16/12).

Perluasan warehouse ini bermanfaat besar bagi emiten berkode saham WIIM tersebut. Sebab, warehouse ini sekaligus menjadi lokasi produksi rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT). Soal berapa pengaruhnya ke produksi, Surjanto enggan memperinci.


Ia hanya bilang, kapasitas warehouse tergantung kenaikan pesanan rokok SKT dari konsumen. "Jika permintaan SKT naik, kapasitas kami bisa naik dengan menambah pekerja untuk melinting rokoknya," kata Surjanto.

Dalam catatan KONTAN, warehouse Wismilak di Bojonegoro ini bisa memproduksi 1.000 karton rokok per minggu. Satu karton berisi 10.000 batang rokok. Artinya, daya tampung produksi warehouse ini mencapai 10 juta batang rokok per minggu.

Adapun warehouse SKT milik Wismilak yang ada di Surabaya bisa memproduksi 600 karton–700 karton per minggu. Itu berarti total produksi rokok SKT di pabrik Surabaya adalah 6 juta–7 juta batang rokok per minggu.

Total produksi rokok SKT Wismilak dari dua warehouse tersebut capai 12 juta–17 juta batang rokok seminggu. Atau total 832 juta –884 juta batang rokok SKT dalam setahun.

Adapun pabrik Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang berlokasi di Surabaya memiliki kapasitas terpasang 4 miliar batang rokok per tahun. Sampai saat ini, produksi SKM baru 40%- 43% atau 1,6 - 1,7 miliar batang rokok per tahun.

Jika dilihat dari kinerja penjualan kuartal III-2015, penjualan SKT unggul ketimbang SKM. Penjualan SKT tumbuh 20% ketimbang penjualan periode yang sama tahun lalu. Adapun penjualan SKM hanya tumbuh 0-1% saja.

Namun secara keseluruhan, sampai September 2015, Wismilak mencatat pertumbuhan volume penjualan 8%. Secara nilai, penjualan Wismilak tumbuh 14,4% menjadi Rp 1,36 triliun, ketimbang periode tahun lalu Rp 1,18 triliun.

Sampai akhir tahun ini, Wismilak memperkirakan penjualan tumbuh 6%-8% ketimbang penjualan tahun lalu senilai Rp 1,66 triliun. Untuk target 2016, Surjanto memproyeksikan pertumbuhan volume penjualan 8%-10% dengan cara meluncurkan produk baru. "Kami masih fokus ke pasar domestik karena kami meng-unggulkan rokok kretek," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri