WMPP Kantongi Restu Rights Issue, Siap Perkuat Modal dan Genjot Produksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melaksanakan aksi korporasi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Kamis (21/5/2026).

Dalam aksi korporasi tersebut, WMPP menargetkan penerbitan hingga 8,5 miliar saham baru yang berasal dari portepel perseroan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi bisnis ke depan.


Direktur Utama WMPP, Tumiyana mengatakan, rights issue menjadi inisiatif perseroan dalam memperkuat fondasi keuangan guna mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan serta meningkatkan kinerja operasional dan finansial perusahaan.

"Hal ini merupakan bukti dukungan pemegang saham terhadap rencana strategis perusahaan dalam melakukan aksi korporasi yang diharapkan dapat berkontribusi positif bagi kinerja ke depannya," ujarnya dalam paparan publik, Kamis (21/5/2026).

Baca Juga: Pendapatan Widodo Makmur Perkasa (WMPP) Melonjak 87,2% Hingga Kuartal III-2025

Melalui rights issue ini, WMPP menargetkan tambahan modal kerja yang akan difokuskan untuk meningkatkan utilisasi fasilitas produksi. Perseroan berharap langkah tersebut dapat mendongkrak volume produksi sekaligus penjualan perusahaan.

Tumiyana menilai penguatan struktur permodalan melalui aksi korporasi ini akan memberikan fleksibilitas keuangan yang lebih baik dan memperkuat fundamental bisnis WMPP di tengah peluang pertumbuhan sektor pangan nasional.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa momentum pelaksanaan rights issue dinilai tepat seiring prospek industri pangan yang masih positif. Menurutnya, tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, sehingga peluang pertumbuhan pasar masih terbuka lebar.

 
WMPP Chart by TradingView

"Data OECD-FAO menunjukkan bahwa konsumsi per kapita untuk daging sapi dan ayam di Indonesia pada tahun 2025 masing-masing baru mencapai 1,69 kg per kapita dan 8,76 kg per kapita. Angka ini jauh lebih rendah dibanding negara tetangga di ASEAN, sehingga ruang tumbuhnya masih sangat luas” jelasnya.

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah juga diyakini dapat mendorong peningkatan konsumsi pangan domestik, khususnya produk protein hewani.

"Dengan dukungan penuh dari pemegang saham untuk melakukan rights issue dan ditopang oleh strategi yang terarah, kami optimistis dapat memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat pertumbuhan bisnis," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News