KONTAN.CO.ID - Jakarta, 4 Juni 2026 Wolvesight, platform keamanan siber berbasis Artificial Intelligence buatan Dwarapala, Perusahaan konsultan keamanan siber asal Indonesia, resmi diluncurkan untuk membantu bank dan Perusahaan keuangan mendeteksi celah business logic yang sering luput dari pemindaian keamanan konvensional. Peluncuran ini berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (4/6). Platform keamanan siber berbasis Artificial Intelligence ini berbeda dengan vulnerability scanner yang umumnya mendeteksi celah teknis seperti SQL Injection, Cross- site Scripting (XSS), atau konfigurasi system yang lemah, Wolvesight dirancang untuk menguji apakah alur bisnis di dalam aplikasi benar benar berjalan aman. Celah business logic biasanya muncul Ketika aturan bisnis, proses otorisasi, limit transaksi, atau hak akses pengguna tidak diterapkan secara ketat didalam aplikasi. Dalam praktiknya, celah semacam ini dapat memungkinkan pelaku melakukan tindakan yang seharusnya tidak diizinkan, seperti memanipulasi nominal transaksi, melewati batas transfer, mengubah parameter ditengan proses, melakukan bypass persetujuan berjenjang, atau menyalahgunakan hak akses pada level pengguna tertentu.
Wolvesight Luncurkan AI Lokal untuk Uji Celah Business Logic Aplikasi Web Perusahaan
KONTAN.CO.ID - Jakarta, 4 Juni 2026 Wolvesight, platform keamanan siber berbasis Artificial Intelligence buatan Dwarapala, Perusahaan konsultan keamanan siber asal Indonesia, resmi diluncurkan untuk membantu bank dan Perusahaan keuangan mendeteksi celah business logic yang sering luput dari pemindaian keamanan konvensional. Peluncuran ini berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (4/6). Platform keamanan siber berbasis Artificial Intelligence ini berbeda dengan vulnerability scanner yang umumnya mendeteksi celah teknis seperti SQL Injection, Cross- site Scripting (XSS), atau konfigurasi system yang lemah, Wolvesight dirancang untuk menguji apakah alur bisnis di dalam aplikasi benar benar berjalan aman. Celah business logic biasanya muncul Ketika aturan bisnis, proses otorisasi, limit transaksi, atau hak akses pengguna tidak diterapkan secara ketat didalam aplikasi. Dalam praktiknya, celah semacam ini dapat memungkinkan pelaku melakukan tindakan yang seharusnya tidak diizinkan, seperti memanipulasi nominal transaksi, melewati batas transfer, mengubah parameter ditengan proses, melakukan bypass persetujuan berjenjang, atau menyalahgunakan hak akses pada level pengguna tertentu.