KONTAN.CO.ID - Korea Selatan akan memulai era baru di pasar valuta asing (valas). Mulai 6 Juli, won akan diperdagangkan selama 24 jam sehari, mengakhiri sistem perdagangan yang selama puluhan tahun dibatasi jam operasional domestik. Mengutip
Reuters, perbankan Korea Selatan mulai menguji sistem perdagangan baru tersebut sejak Senin (29/6/2026).
Baca Juga: Nikkei Melonjak 37%, Investor Jepang Berburu Saham AI Generasi Ketiga Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Seoul meningkatkan akses investor global sekaligus memenuhi syarat untuk masuk ke kategori pasar maju versi MSCI. Namun, di balik peluang tersebut, para pelaku pasar mengkhawatirkan meningkatnya risiko volatilitas dan beban kerja bagi dealer valas. Namkoong Taehun, dealer valuta asing di Hana Bank yang telah berkarier selama 18 tahun, mengatakan perubahan ini menjadi tantangan besar. Selama kariernya, ia telah melewati berbagai gejolak pasar, mulai dari krisis Lehman Brothers, anjloknya poundsterling pasca-Brexit, hingga pelemahan tajam won setelah pemberlakuan darurat militer di Korea Selatan pada 2024. "Saat pertama kali bekerja, perdagangan hanya berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.00. Jumlah institusi keuangan yang berpartisipasi pun masih sangat sedikit," ujarnya. Kini, menurut Namkoong, jumlah pelaku pasar meningkat pesat sehingga permintaan terhadap aset berdenominasi won juga terus bertambah. "Kami memperkirakan beban kerja akan meningkat secara signifikan," katanya.
Baca Juga: Venezuela Lumpuh Diguncang Gempa Kembar M 7,5, Korban Diperkirakan Terus Bertambah Demi status pasar maju MSCI Berbeda dengan tiga dekade lalu ketika Korea Selatan berupaya membatasi arus modal setelah krisis keuangan Asia 1997, kini pemerintah justru membuka akses yang lebih luas bagi investor asing. Pemerintah menilai mata uang yang dapat diperdagangkan selama 24 jam menjadi salah satu syarat penting untuk memperoleh status developed market dari MSCI. Namun, langkah tersebut juga membawa risiko. Saat ini, won masih berada di dekat level terlemahnya dalam 17 tahun terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat mata uang Korea Selatan rentan mengalami fluktuasi tajam ketika likuiditas pasar menipis, terutama pada jam-jam perdagangan tertentu. Ironisnya, reli kuat indeks saham KOSPI, yang telah melonjak hingga mencetak rekor tertinggi tahun ini, justru ikut menekan nilai tukar won. Kenaikan harga saham mendorong investor asing merealisasikan keuntungan dan melakukan penyeimbangan portofolio. Pada saat yang sama, investor Korea Selatan juga terus meningkatkan investasi ke saham-saham Amerika Serikat dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Bos Kripto China Buron, Diduga Terkait Penipuan Investasi dan Judi Online Reformasi pasar valas Untuk mengantisipasi risiko perdagangan selama 24 jam, pemerintah Korea Selatan memperkenalkan sejumlah reformasi. Investor luar negeri kini diizinkan memiliki dan memperdagangkan won secara langsung melalui sistem penyelesaian transaksi (
offshore won settlement system). Selain itu, pemerintah juga menerapkan kebijakan fasilitas cerukan (
overdraft) guna menjaga kelancaran transaksi. Seorang pejabat pemerintah yang menangani kebijakan valuta asing mengatakan sebelumnya lembaga keuangan asing hanya dapat menukar mata uang. "Dengan sistem penyelesaian transaksi won di luar negeri, mereka kini dapat langsung memiliki dan menggunakan won," ujarnya. Selama bertahun-tahun, pembatasan perdagangan won menjadi salah satu keluhan utama investor global karena memaksa mereka menggunakan kontrak derivatif untuk mengelola eksposur mata uang di luar jam perdagangan Korea Selatan. Baru dua tahun lalu, Seoul memperpanjang jam perdagangan won hingga pukul 02.00 dini hari untuk mengakomodasi jam perdagangan London. Kepala Penjualan Valuta Asing Asia Pasifik State Street Hong Kong, Shen Li, mengatakan sekitar 20% transaksi spot won kini sudah terjadi di luar jam perdagangan domestik, terutama pada pagi hari waktu London. Menurutnya, perdagangan 24 jam akan semakin meningkatkan likuiditas pasar.
Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Penurunan Mingguan Keempat Jumat (26/6), Dolar AS Perkasa Bank tambah pegawai dan shift malam Meski demikian, MSCI pada pekan ini masih mempertahankan Korea Selatan dalam kategori emerging market. MSCI menilai aksesibilitas pasar masih perlu ditingkatkan dan likuiditas perdagangan domestik belum memadai meskipun jam perdagangan valuta asing telah diperpanjang. Evaluasi berikutnya akan dilakukan satu tahun mendatang. Sementara itu, bank-bank Korea Selatan mulai menyesuaikan operasionalnya untuk menghadapi perdagangan nonstop. Hana Bank akan menambah tiga pegawai baru untuk mendukung sistem kerja tiga shift.
Woori Bank berencana menggandakan jumlah staf di kantor London menjadi empat orang, sedangkan Shinhan Bank menambah satu pegawai di London. KB Kookmin Bank juga telah merekrut dua pegawai tambahan.
Baca Juga: Yen Tertekan Dekati Rekor Terendah Sejak 1986, Dolar AS Masih Perkasa Dealer valas Hana Bank Shin Jae-min mengatakan, kebutuhan pemantauan pasar selama 24 jam membuat waktu istirahat menjadi semakin terbatas. "Kadang pasar tiba-tiba sangat sibuk, seperti ketika pesanan membanjir setelah SpaceX melantai di bursa. Dalam kondisi seperti itu, kami bahkan tidak sempat beristirahat meski terjadi pada jam-jam yang tidak biasa," ujarnya.