Won Korea Selatan Jadi Mata Uang Asia yang Paling Tertekan, Rupiah Ikut Melemah



KONTAN.CO.ID - Won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terbesar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (16/9/2026).

Mayoritas mata uang Asia bergerak terbatas di tengah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.

Mengacu data Reuters pada pukul 02.07 GMT, won Korea Selatan melemah 0,66% ke level 1.371,10 won per dolar AS, dari posisi sebelumnya 1.362,11 won per dolar AS.


Baca Juga: Keuangan AirAsia Memburuk, Malaysia Airlines dan Batik Air Disiapkan Ambil Alih Pasar

Rupiah juga tercatat melemah 0,34% menjadi Rp 17.740 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 17.680 per dolar AS.

Yen Jepang turun 0,21% ke 155,41 per dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,10% ke 1,274 per dolar AS, sedangkan dolar Taiwan turun 0,12% menjadi 31,885 per dolar AS.

Baht Thailand juga melemah 0,21% menjadi 33,31 per dolar AS. Sementara itu, yuan China relatif stabil dengan pelemahan 0,01% ke level 6,712 per dolar AS.

Di antara mata uang Asia yang tercantum, peso Filipina menjadi salah satu yang bergerak berlawanan arah dengan penguatan 0,05% ke 62,737 per dolar AS.

Rupee India berada di level 95,955 per dolar AS atau tidak berubah dari posisi sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan akhir 2025, pergerakan mata uang Asia menunjukkan perbedaan yang cukup lebar.

Won Korea Selatan tercatat menguat 5,06% terhadap dolar AS sepanjang 2026 hingga 16 September.

Yuan China juga menguat 4,11%, sementara yen Jepang menguat 0,80% dan dolar Singapura naik 0,93%.

Baca Juga: Usai Melonjak 2%, Harga Kedelai AS Kini Berbalik Melemah

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia masih mencatat pelemahan terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan.

Rupee India melemah 6,34%, peso Filipina turun 6,28%, rupiah melemah 6,03%, sedangkan baht Thailand terkoreksi 5,58%.

Dolar Taiwan juga melemah 1,40% dibandingkan akhir 2025.

Data tersebut menunjukkan bahwa meski sejumlah mata uang Asia mengalami tekanan pada perdagangan harian, kinerja sepanjang tahun berjalan masih bervariasi di tengah dinamika pasar valuta asing global.