Won Korea Selatan Memimpin Penguatan Mata Uang Asia, Rupiah Masih Tertahan



KONTAN.CO.ID - Mayoritas mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (7/7/2026).

Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan, sementara baht Thailand mencatat pelemahan terdalam.

Baca Juga: Selat Hormuz Memanas: Rudal Iran Hantam Kapal Komersial!


Berdasarkan data Reuters hingga pukul 02.03 GMT, won Korea Selatan menguat 0,28% ke level 1.525,80 per dolar AS.

Yen Jepang juga terapresiasi 0,17% ke 161,81 per dolar AS, diikuti ringgit Malaysia yang naik 0,15%, dolar Singapura menguat 0,10%, peso Filipina bertambah 0,09%, serta yuan China menguat 0,08%.

Di sisi lain, baht Thailand melemah 0,23% menjadi 33,305 per dolar AS, sedangkan dolar Taiwan turun 0,14%.

Sementara itu, rupiah diperdagangkan stabil di level Rp 17.985 per dolar AS atau tidak berubah dibandingkan penutupan sebelumnya. Rupee India juga bergerak datar di level 95,395 per dolar AS.

Secara year to date (YTD), rupiah masih menjadi salah satu mata uang Asia dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS.

Baca Juga: Nilai Tukar Yen Terus Tertekan, Investor Tunggu Aksi Pemerintah Jepang

Sejak akhir 2025, rupiah telah terdepresiasi sekitar 7,31%, dari Rp 16.670 menjadi Rp 17.985 per dolar AS.

Selain rupiah, won Korea Selatan melemah 5,66% sepanjang tahun berjalan, baht Thailand turun 5,57%, rupee India terdepresiasi 5,79%, peso Filipina melemah 4,23%, yen Jepang turun 3,19%, dolar Taiwan terkoreksi 1,97%, ringgit Malaysia melemah 0,49%, dan dolar Singapura turun 0,40%.

Berbeda dengan mayoritas mata uang Asia, yuan China justru masih mencatat penguatan sekitar 2,96% terhadap dolar AS sepanjang 2026.