Won Korea Selatan Pimpin Penguatan Mata Uang Asia Rabu (6/5) Pagi, Rupiah ke Rp17.370



KONTAN.CO.ID - Mata uang Asia mayoritas menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (6/5/2026) pagi, dipimpin oleh won Korea Selatan yang mencatat kenaikan paling signifikan di kawasan.

Melansir Reuters, Won Korea Selatan menguat sekitar 1,40% ke level 1.456,10 per dolar AS, menjadi mata uang dengan performa terbaik di Asia pada hari ini.

Baca Juga: Bank Sentral Selandia Baru: Sistem Keuangan Tetap Tangguh di Tengah Risiko Global


Penguatan ini sejalan dengan membaiknya sentimen pasar global di tengah harapan meredanya ketegangan geopolitik.

Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mencatat penguatan. Dolar Singapura naik 0,16% ke 1,273 per dolar AS, dolar Taiwan menguat 0,35% ke 31,496, sementara ringgit Malaysia naik 0,25% ke 3,95.

Yuan China turut menguat 0,18% ke level 6,819 per dolar AS. Rupiah Indonesia juga menguat 0,23% ke kisaran 17.370 per dolar AS.

Di sisi lain, peso Filipina relatif stabil dengan sedikit pelemahan 0,01% ke 61,37 per dolar AS, sementara rupee India tidak mengalami perubahan di level 95,28.

Baht Thailand menguat tipis 0,11% ke 32,505 per dolar AS, sedangkan yen Jepang naik 0,13% ke 157,66 per dolar AS.

Baca Juga: AS Desak Resolusi Selat Hormuz Jadi Ujian bagi PBB, Minta China dan Rusia Tak Veto

Kinerja Sejak Awal Tahun

Meski menguat secara harian, sebagian besar mata uang Asia masih mencatat pelemahan sejak awal tahun 2026.

Rupee India menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, turun sekitar 5,68% sejak akhir 2025.

Disusul peso Filipina yang melemah 4,19% dan rupiah Indonesia yang turun sekitar 4,03%.

Baht Thailand juga melemah 3,25%, sementara won Korea Selatan turun 1,14% secara year-to-date.

Sebaliknya, beberapa mata uang mencatat penguatan sepanjang tahun ini. Ringgit Malaysia naik sekitar 2,68%, yuan China menguat 2,48%, dan dolar Singapura naik 0,97%.

Baca Juga: Aktivitas Jasa China Menguat di April, Namun Permintaan Ekspor Masih Melemah

Sentimen Pasar

Penguatan mata uang Asia hari ini didorong oleh pelemahan dolar AS, seiring meningkatnya harapan pasar terhadap potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat meredakan ketegangan global.

Selain itu, penurunan harga minyak turut membantu memperbaiki sentimen risiko, terutama bagi negara-negara pengimpor energi di kawasan Asia.

Pelaku pasar kini juga menanti sejumlah data ekonomi penting global dalam waktu dekat, termasuk data tenaga kerja AS, yang akan menjadi penentu arah pergerakan mata uang selanjutnya.