Wow, dalam 4 tahun harga lahan Bintaro naik 250%



TANGERANG SELATAN. Stimulan utama yang mendorong tingginya harga hunian di kawasan Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, adalah harga lahan. Dalam kondisi aktual, harga lahan di kawasan ini sudah berada pada level Rp 21 juta per meter persegi, terutama di titik-titik strategis dan premium. Padahal saat 2010 atau empat tahun lalu, masih bertengger di angka Rp 6 juta per meter persegi. Ini artinya kenaikan harga lahan sebesar 250% dalam empat tahun atau 62,5% per tahun. Menurut Senior Sales Consultant Bintaro Jaya, Doddy Kresno, melejitnya harga lahan di Bintaro Jaya tak lepas dari kondisi infrastruktur yang memadai dan kelengkapan fasilitas yang bisa diakses publik dengan mudah. "Infrastruktur membuat kawasan Bintaro mudah diakses dan lebih terbuka. Terlebih dalam waktu dekat, akan dikembangkan jalan tembus menuju Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2 sehingga warga yang berasal dari barat Jakarta bisa langsung ke Bintaro tanpa melalui akses lain," jelas Doddy, Rabu (30/7) seperti dikutip dari Kompas.com. Sebelumnya, kawasan seluas 2.000 hektare ini bisa ditempuh dari Tol Jakarta Serpong, Jalan Veteran, Jl Kunciran, Ciledug, dan beberapa jalan lingkungan lainnya. Untuk ukuran kawasan mandiri yang sudah berusia lebih dari tiga dekade, Bintaro Jaya terbilang lengkap dengan ekologi kota yang dapat memenuhi kebutuhan warga penghuni dan warga di sekitar kawasan. Sebut saja fasilitas umum yang sudah tebangun dan beroperasi yakni pasar modern, Plaza Bintaro, Bintaro Xchange Mall, gerai-gerai hipermarket, sekolah, rumah sakit, rumah ibadah, dan kawasan bisnis terpadu. Tak hanya itu, kawasan Bintaro juga terintegrasi dengan jaringan transportasi dalam kota Jakarta baik melalui jaringan kereta api, maupun bis kota. "Bintaro kemudian menjadi kawasan yang diburu investor dan pencari rumah kelas menengah atas. Permintaan demikian tinggi, sementara apsokan terbatas. Itu terjadi tak hanya di pasar primer, pun di pasar sekunder. Jarang orang yang sudah memiliki hunian di sini, melepasnya begitu saja. Mereka menunggu harga merangkak naik karena ada pengembangan fasilitas-fasilitas baru," tutur Doddy. Doddy melanjutkan, berbeda dengan kawasan mandiri lainnya, rumah-rumah di Bintaro sebagian besar dimiliki dan dihuni oleh pengguna akhir (end user), ketimbang investor. Perbandingannya mungkin bisa sampai 80:20. "Itulah yang membuat harga lahan dan properti di Bintaro melesat lebih cepat ketimbang kawasan lainnya. Tingginya harga pun bukan karena kenaikan semu, karena faktor pengguna akhir yang lebih dominan ketimbang investor," pungkas Doddy. (Hilda B Alexander)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Hendra Gunawan