KONTAN.CO.ID - Sejumlah petinggi perusahaan China berpotensi ikut dalam kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington, Amerika Serikat (AS). Rombongan tersebut kemungkinan mencakup sejumlah perusahaan yang tengah menghadapi pengawasan regulasi AS. Melansir
Reuters, tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Washington dan Beijing sedang memfinalisasi daftar pemimpin bisnis China yang akan bergabung dalam kunjungan Xi. Undangan final kepada perusahaan diperkirakan dikirim dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Thailand Perpanjang Program Subsidi Konsumen Senilai 40 Miliar Baht Departemen Luar Negeri AS juga diperkirakan memberikan persetujuan visa bagi delegasi bisnis tersebut, menurut salah satu sumber. Sejumlah perusahaan yang tengah dipertimbangkan antara lain produsen kendaraan listrik (EV) BYD, produsen smartphone Xiaomi yang juga mengembangkan bisnis EV, produsen baterai CATL dan Gotion, produsen elektronik konsumen Hisense, pemasok komponen otomotif Wanxiang Group, serta Bank of China dan konglomerat agrikultur milik negara COFCO Group. Namun, komposisi akhir delegasi tersebut masih belum ditetapkan. BYD menolak memberikan komentar. Sementara itu, CATL, Xiaomi, Wanxiang, Hisense, Gotion dan Bank of China tidak merespons permintaan komentar Reuters. Perusahaan-perusahaan China disebut telah diminta bersiap menunggu konfirmasi dari pertemuan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng pada akhir pekan ini.
Baca Juga: Harga Emas Naik ke Level Tertinggi Sepekan, Ini Pemicu Penguatannya Sumber meminta identitasnya tidak dipublikasikan karena rencana tersebut belum diumumkan secara resmi. Juru bicara Departemen Keuangan AS mengarahkan pertanyaan Reuters kepada Gedung Putih, yang tidak memberikan tanggapan. Kementerian Luar Negeri China mengatakan tidak memiliki informasi terkait rencana tersebut, sedangkan Kementerian Perdagangan China tidak merespons permintaan komentar. Perusahaan China Hadapi Tekanan Regulasi AS Jika terealisasi, kunjungan delegasi bisnis dalam jumlah besar menjadi langkah yang cukup tidak biasa mengingat sikap Washington terhadap investasi China dan pengawasan Beijing yang semakin ketat terhadap sektor swasta. Salah satu sumber mengatakan, Xi berencana membawa perusahaan yang menghadapi sanksi, masuk daftar hitam, atau tekanan regulasi di AS.
Baca Juga: Warren Buffett Berusia 96 Tahun, Kini Jadi Chairman Emeritus Berkshire Hathaway Langkah ini disebut menyerupai keputusan Presiden AS Donald Trump yang membawa sejumlah eksekutif perusahaan AS yang menghadapi pengawasan China dalam kunjungannya ke Beijing pada Mei lalu. AS menerapkan sejumlah pembatasan terhadap industri kendaraan China. Aturan era pemerintahan Joe Biden akan melarang produsen yang memiliki keterkaitan dengan China menjual kendaraan penumpang baru yang terhubung ke internet di AS mulai model tahun 2027. Aturan tersebut juga membatasi penggunaan perangkat lunak dan perangkat keras China pada kendaraan terkait. Selain itu, Washington menerapkan tarif 100% terhadap kendaraan listrik asal China. Produsen otomotif AS juga telah meminta Trump tidak membuka pasar domestik bagi produsen kendaraan China. Namun, Trump pada pekan lalu mengatakan mendukung perusahaan China membangun kendaraan di AS. CATL dan BYD masing-masing masuk daftar perusahaan Pentagon pada Januari 2025 dan Juni 2026 karena dugaan keterkaitan dengan militer China.
Baca Juga: Asian Games 2026 Digelar di Nagoya, Gaungnya Belum Terasa di Jepang Ford diketahui melisensikan teknologi CATL untuk produksi baterai di pabriknya di Michigan, sebuah kemitraan yang mendapat kritik dari sejumlah anggota parlemen AS. Gotion juga menggugat pemerintah Green Charter Township di Michigan terkait rencana pembangunan pabrik komponen EV senilai US$2,36 miliar yang disebut terhambat oleh pejabat setempat. Sementara itu, Wanxiang pada Desember lalu sepakat membayar lebih dari US$53 juta untuk menyelesaikan kasus dengan Departemen Kehakiman AS terkait bea masuk dan bea antidumping atas komponen otomotif China. China Cari Perlakuan Setara Rencana membawa delegasi bisnis China juga berkaitan dengan upaya Beijing memperoleh perlakuan yang setara setelah kunjungan Trump ke China pada Mei. Delegasi bisnis yang dibawa Trump ketika itu mencakup CEO produsen chip Micron dan Qualcomm serta perusahaan pengurutan gen Illumina. Ketiga perusahaan tersebut sebelumnya menghadapi tekanan regulasi atau persoalan akses pasar di China.
Baca Juga: Hyundai Peringatkan AS, Mobil China Bisa Banjiri Pasar Seperti di Eropa Salah satu sumber mengatakan delegasi bisnis China kemungkinan memiliki ukuran yang serupa dengan rombongan Trump. Beijing disebut ingin memperoleh prinsip timbal balik dalam pengaturan kunjungan tersebut, dengan Kementerian Perdagangan China ditugaskan menghubungi perusahaan-perusahaan terkait.
Para eksekutif China diperkirakan menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Putih. CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO OpenAI Sam Altman juga diperkirakan hadir. Nvidia sendiri masih menghadapi kesulitan menjual chip semikonduktor H200 yang lebih canggih di China di tengah pengawasan regulasi Beijing. Ekspektasi terhadap pertemuan puncak Xi dan Trump disebut masih terbatas. Salah satu agenda Washington adalah kesepakatan mengenai Board of Trade, di samping upaya memperoleh tambahan lisensi ekspor mineral tanah jarang untuk perusahaan AS. Kedua negara juga membahas perpanjangan gencatan perdagangan yang disepakati pada Oktober lalu di Korea Selatan.