KONTAN.CO.ID - BEIJING. Xiaomi Corp China membukukan penurunan laba bersih sebesar 43% pada kuartal pertama, Selasa (26/5), karena bisnis ponsel pintarnya tertekan oleh biaya chip memori yang tinggi. Produsen ponsel pintar dan kendaraan listrik China ini melaporkan laba bersih yang disesuaikan sebesar 6,1 miliar yuan (US$899 juta) untuk periode Januari-Maret. Angka tersebut dibandingkan dengan perkiraan rata-rata analis sebesar 6,4 miliar yuan, menurut data LSEG.
Xiaomi berinvestasi besar-besaran di kendaraan listrik dan kecerdasan buatan, mencari pendorong pendapatan baru di luar bisnis inti ponselnya. Bisnis kendaraan listriknya tumbuh tetapi masih membebani pendapatan karena investasi besar dan margin yang lebih rendah.
Baca Juga: Donald Trump Bakal Jalani Pemeriksaan Kesehatan Tahunan di Walter Reed Perusahaan melaporkan pendapatan sebesar 19 miliar yuan untuk bisnis kendaraan listrik (EV) pada kuartal pertama, naik 5,1% dari tahun sebelumnya. Kerugian operasional terkait EV, AI, dan inisiatif baru lainnya mencapai 3,1 miliar yuan. Pada kuartal pertama, Xiaomi mengirimkan 80.856 EV, turun 44,3% dari 145.115 EV pada kuartal keempat. Pengiriman naik 6,6% dari tahun sebelumnya. Xiaomi mengatakan pendapatan kuartal pertama adalah 99,1 miliar yuan. Angka tersebut sedikit di bawah perkiraan rata-rata analis sebesar 103,4 miliar yuan. Saham Xiaomi yang terdaftar di bursa Hong Kong ditutup turun 0,8% pada HK$29,76. Minggu lalu, perusahaan tersebut merilis versi standar baru yang lebih murah dari seri SUV andalannya, YU7, dengan harga mulai dari 233.500 yuan, sekitar 8% lebih rendah dari versi sebelumnya, meningkatkan tekanan pada Tesla di pasar mobil China yang kompetitif namun melambat. Produsen mobil China kini menargetkan ekspansi ke luar negeri, berfokus pada pasar seperti Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia Tenggara, di mana permintaan akan kendaraan listrik berbiaya rendah telah meningkat. Xiaomi berencana memasuki pasar Eropa mulai tahun 2027.
Produsen smartphone nomor 3 dunia tersebut mengirimkan 33,8 juta unit smartphone pada kuartal pertama, turun 19% dari tahun sebelumnya, menandai penurunan paling tajam di antara lima merek global teratas, menurut perusahaan riset Omdia. Pendapatan smartphone Xiaomi turun 12,5% year-on-year menjadi 44,3 miliar yuan, sementara margin laba kotor smartphone turun menjadi 10,1% dari 12,4% tahun sebelumnya, terutama karena harga komponen utama yang lebih tinggi dan meningkatnya persaingan di Tiongkok daratan. Prospek pasar smartphone untuk tahun 2026 tetap lemah, karena krisis chip memori mungkin akan berlangsung hingga akhir tahun 2027 dan ketegangan di Timur Tengah juga membebani sentimen konsumen, menurut sebuah perusahaan riset lain, Counterpoint Research.
Baca Juga: Pesan Haji Pemimpin Tertinggi Iran: Rezim Zionis di Ambang Kehancuran, Apa Artinya?