Yayasan Clinton Mampu Kumpulkan Dana US$ 46 Juta dari Banyak Negara



WASHINGTON. Yayasan milik mantan Presiden AS Bill Clinton berhasil mengumpulkan dana sekitar US$ 46 juta. Jumlah uang sebanyak itu berasal dari Arab Saudi dan pemerintah dari negara lain.

Kerajaan Arab Saudi memberikan duit sekitar US$ 10 juta hingga US$ 25 juta untuk disumbangkan kepada William J Clinton Foundation. Sedangkan dana lain berasal dari beberapa negara yakni Norwegia, Kuwait, Qatar, Brunei, Oman, Italia dan Jamaica.

Pada hari Kamis kemarin, yayasan Clinton memublikasikan nama-nama 205.000 donor dalam situs resminya. Ini merupakan transparansi pertama yang menunjukkan siapa saja donor yayasan yang menyumbang sejumlah uang. Daftar penyumbang didominasi oleh para pemimpin internasional, pebisnis dan miliarder. Sementara, sekitar 12.000 donor menyumbang dana dengan kisaran US$ 10 atau mungkin kurang.


Clinton akhirnya menyetujui untuk melakukan transparansi setelah adanya kekhawatiran bahwa yayasan dan bisnis yang ia jalankan akan memiliki benturan kepentingan. Pasalnya, saat ini sang istri merupakan calon kuat Menteri Luar Negeri AS. Padahal, selama bertahun-tahun, Clinton selalu mengelak bahwa yayasannya tidak memiliki kewajiban untuk menyebut siapa saja pihak-pihak yang memberikan donasi dengan alasan banyak donatur yang merasa keberatan.

Daftar tersebut juga menandai adanya hubungan yang erat antara Clinton dan India. Hubungan ini dapat memperumit persepsi diplomatik apakah Hillary Clinton akan berlaku netral menghadapi memanasnya hubungan India dan Pakistan.

Dalam daftar tersebut, Clinton tidak memberikan angka pasti sumbangan yang diberikan oleh setiap donor. Dia hanya memberikan angka kisaran saja. Selain itu, dia juga tidak menyebutkan pekerjaan atau negara para pendonor.

Sekadar informasi saja, yayasan ini merupakan lembaga non-profit yang didirikan oleh Clinton untuk membiayai pembangunan perpustakaannya di Little Rock Ark. Selain itu, sebagian dana juga ditujukan untuk memerangi kemiskinan dan pencegahan penyebaran AIDS.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie