Yen bergerak stagnan tanpa sentimen



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pesona yen sebagai safe haven cenderung memudar belakangan ini. Hal ini berpengaruh ke pergerakan sahamnya. Pada perdagangan kemarin, harga saham yen cenderung bergerak stagnan terhadap mata uang utama dunia lainnya.

Per pukul 21.07 WIB kemarin, yen melemah tipis 0,06% terhadap poundsterling. Pairing GBP/JPY berada di level 149,19. Di awal perdagangan, yen sempat menguat terhadap poundsterling.

Analis menilai yen bergerak datar terhadap poundsterling karena efek kebijakan bank sentral. "Ada keyakinan Bank of Japan (BoJ) bisa mencapai target inflasi, sehingga yen bisa menguat," kata Anthonius Edyson, analis Astronacci International, kemarin.


Senin lalu (21/5), BoJ berhasil memperoleh persetujuan parlemen dan pemerintah untuk mengubah target inflasi. BoJ tidak mengubah target inflasi 2%, tetapi menghilangkan target waktu pencapaian tingkat inflasi tersebut.

Sementara yen bergerak cenderung melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Pairing USD/JPY melemah 0,03% ke 111,02 per pukul 21.07 WIB kemarin.

Dollar AS cenderung menguat lantaran AS dan China sepakat menunda penetapan tarif yang bisa mengakibatkan perang dagang. Selain itu, dollar AS sudah naik cukup tinggi. "Ini membuat trader melakukan profit taking," kata Yohanes Sigit Hartono, analis Rifan Financindo.

Menurut Yohanes, kurs yen terhadap dollar AS masih bis tertekan. "Secara keseluruhan, pairing USD/JPY masih berpeluang terus melemah," prediksi dia.

Sentimen yang bakal mempengaruhi USD/JPY antara lain rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee pekan ini. Bila notulensi tersebut memberi sinyal petinggi The Federal Reserve bersikap hawkish, dollar AS berpotensi kembali menguat.

Yen juga melemah terhadap euro. Per pukul 21.08 WIB kemarin, pairing EUR/JPY melemah 0,16% ke 130,73. Analis menilai, baik EUR maupun JPY tidak memiliki sentimen yang cukup kuat untuk mendorong kurs.

EUR masih tertekan sentimen negatif kondisi ekonomi Eropa. "EUR sedang mengalami ketidakpastian politik," ujar Faisyal, analis Monex Investindo Futures. Salah satunya, pemilihan perdana menteri baru Italia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati