Yen Jepang Jadi Valas Utama Paling Prospektif hingga Akhir Tahun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Yen Jepang menjadi salah satu mata uang utama yang paling prospektif untuk menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga akhir tahun.

Ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dan menyempitnya selisih imbal hasil Jepang-AS menjadi katalis yang dapat menopang pergerakan yen.

Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (8/9/2026) pukul 16.27 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 98,975, turun 0,20% secara harian. Tekanan terhadap dolar AS juga terlihat dari pergerakan USD/JPY. Pasangan mata uang tersebut berada di level 154,074, turun 0,19% secara harian dan telah melemah 3,74% dalam sepekan. Pergerakan ini menunjukkan penguatan yen terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir.


Baca Juga: Sarana Menara (TOWR) Genjot Infrastruktur Digital, Bidik Pertumbuhan dari 5G dan AI

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, kondisi tersebut membuat prospek yen cukup menarik untuk dicermati hingga akhir tahun.

“Dari beberapa valas (valuta asing) utama, JPY menjadi salah satu yang paling menarik dengan peluang penguatan relatif lebih besar terhadap dolar AS hingga akhir tahun,” ujar Amru kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).

Penguatan yen tersebut tidak hanya berkaitan dengan tekanan terhadap dolar AS. Menurut Amru, ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ yang semakin kuat turut menjadi faktor penting bagi pergerakan mata uang Jepang.

Di sisi lain, selisih imbal hasil Jepang dan AS yang semakin menyempit juga dapat mengurangi daya tarik strategi carry trade. Kondisi ini berpotensi mendorong investor mengurangi posisi carry trade dan memberikan dukungan tambahan bagi yen.

“Faktor pendukungnya berasal dari meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ dan penyempitan selisih imbal hasil Jepang dan AS. Momentum penguatan yen juga sudah terlihat dalam pergerakan terakhir,” katanya.

Meski prospek yen cukup positif, pergerakannya tetap akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi AS. Dalam jangka pendek, pasar akan mencermati data inflasi AS, terutama producer price index (PPI) dan consumer price index (CPI), karena data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Bergerak Terbatas, Intip Faktor Penggerak dan Proyeksi Rabu (9/9)

Sebelumnya, data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan kembali mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun, pasar masih menunggu konfirmasi dari data inflasi sebelum menentukan apakah tekanan tersebut akan berlanjut.

Jika ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ tetap kuat dan selisih imbal hasil Jepang-AS terus menyempit, yen berpeluang melanjutkan penguatannya.

Sebaliknya, data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mendorong dolar AS kembali menguat dan membuka ruang koreksi bagi yen.

Untuk jangka menengah hingga akhir tahun, Amru memperkirakan penguatan yen terhadap dolar AS masih dapat berlanjut. USD/JPY berpotensi bergerak menuju kisaran 150-153, dengan asumsi ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ tetap kuat dan selisih imbal hasil Jepang-AS terus menyempit.

Kendati demikian, penguatan yen yang berlangsung cukup cepat tetap membuka peluang koreksi dalam jangka pendek. Investor perlu mencermati perkembangan data inflasi AS serta arah kebijakan BoJ dan The Fed untuk mengantisipasi perubahan sentimen terhadap yen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News