KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar yen Jepang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Penguatan tersebut membawa yen menuju kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari sebulan, di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan kembali menaikkan suku bunga. Pergerakan yen juga dipengaruhi oleh perhatian investor terhadap data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Mengutip Reuters, yen Jepang sempat menguat hingga 155,25 per dolar AS pada perdagangan pagi, mendekati level tertinggi 155,20 yang dicapai pada bulan lalu setelah intervensi pemerintah Jepang.
Namun, penguatan tersebut kemudian sedikit mereda. Yen terakhir tercatat relatif datar di level 155,71 per dolar AS. Secara mingguan, yen berada di jalur kenaikan sekitar 2,5%. Jika terealisasi, penguatan tersebut akan menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak akhir Juli ketika Jepang dan AS melakukan intervensi bersama yang jarang terjadi untuk menghentikan pelemahan yen yang terus berlanjut.
Baca Juga: Kerugian Banjir Nepal Diperkirakan Capai US$2,56 Miliar Spekulasi Kenaikan Suku Bunga BOJ
Tidak adanya bukti jelas mengenai intervensi resmi membuat analis menilai penguatan yen kali ini lebih banyak didorong oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan BOJ. Investor mulai memperkirakan BOJ akan mengambil sikap yang lebih hawkish atau lebih agresif dalam normalisasi kebijakan moneter ketika menggelar pertemuan pada 17-18 September 2026. Masahiko Loo, Senior Fixed Income Strategist di State Street Investment Management di Tokyo, mengatakan penguatan yen saat ini lebih mencerminkan perubahan pandangan pasar terhadap arah kebijakan BOJ. "Ini terasa kurang seperti aksi short squeeze dan lebih seperti pasar secara hati-hati menilai kembali jalur kebijakan BOJ yang lebih hawkish," kata Masahiko Loo. Menurut dia, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan Jepang melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya hingga 2027. "Pasar akhirnya mulai menerima gagasan bahwa Jepang mungkin terus melakukan normalisasi kebijakan hingga 2027," ujarnya. Di sisi lain, diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, mengatakan pemerintah Jepang tetap mencermati pergerakan nilai tukar. Mimura juga menyebut dirinya terus melakukan komunikasi dengan otoritas Amerika Serikat. Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar tetap mewaspadai kemungkinan intervensi lanjutan untuk membeli yen jika pelemahan mata uang Jepang kembali terjadi.
Pasar Menanti Data Payrolls AS
Perhatian investor kemudian beralih ke Amerika Serikat, terutama data nonfarm payrolls yang akan menjadi salah satu indikator utama bagi arah kebijakan Federal Reserve. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk yen dan euro, berada di level 99,01 atau relatif tidak berubah. Euro juga bergerak datar di US$1,1625, sementara pound sterling berada di US$1,3527. Dolar AS sendiri berada di jalur penurunan sekitar 0,7% sepanjang pekan ini. Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi penting sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026. Selain data nonfarm payrolls, pasar juga akan mencermati data inflasi Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan dirilis pekan depan. Gubernur Federal Reserve Christopher Waller pada Kamis mengatakan dirinya cenderung mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan ini apabila data inflasi berikutnya menunjukkan tekanan harga terus mereda. Komentar tersebut dinilai relatif dovish dan membuat pelaku pasar mengurangi spekulasi mengenai kemungkinan perubahan suku bunga pada September. Probabilitas tersirat untuk perubahan suku bunga bulan ini kembali berada di sekitar 50%.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Investor Tunggu Data Tenaga Kerja AS dan Arah Suku Bunga The Fed Harga Minyak dan Risiko Geopolitik Jadi Perhatian
Selain kebijakan moneter, investor juga memantau perkembangan geopolitik di kawasan Teluk dan dampaknya terhadap inflasi global. Harga minyak mentah Brent masih berada pada level tinggi di atas US$95,52 per barel setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada pekan ini. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan menjadi faktor yang dapat memengaruhi keputusan bank sentral, termasuk Federal Reserve. Sementara itu, dolar Selandia Baru menguat 0,2% menjadi US$0,5892 setelah bank sentral negara tersebut menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75% pada Rabu.
Bank sentral Selandia Baru juga memberikan sinyal masih terbuka terhadap pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Dolar Australia turut menguat 0,1% menjadi US$0,7206. Di pasar aset kripto, Bitcoin tercatat melemah 0,3% menjadi US$80.995,51. Pergerakan pasar valuta asing pada pekan ini menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral kembali menjadi faktor utama. Yen mendapat dorongan dari meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga BOJ, sementara dolar AS menghadapi tekanan menjelang publikasi data ketenagakerjaan dan inflasi yang akan menentukan arah kebijakan The Fed.