Yen Kembali Dekati Level Terendah 40 Tahun, Pasar Uji Kesabaran Jepang



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang kembali melemah pada perdagangan Selasa (7/7/2026), mendekati level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pelaku pasar semakin berani menekan yen karena hingga kini belum terlihat adanya intervensi dari otoritas Jepang untuk menopang mata uang tersebut.

Baca Juga: Portugal Tersingkir, Ini Statistik Cristiano Ronaldo di Enam Edisi Piala Dunia


Meski demikian, risiko intervensi mendadak dari pemerintah Jepang membuat pelemahan yen masih relatif terbatas.

Pada awal perdagangan Asia, yen bergerak di kisaran lebih lemah dari 162 per dolar AS.

Mata uang Jepang itu juga berada di dekat level terendah terhadap poundsterling sejak 2007, yakni 217,09 yen per pound, setelah sempat mencetak level terendah baru pada perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, euro diperdagangkan di level 185,47 yen setelah menguat 0,5% pada sesi sebelumnya.

Analis Senior Valuta Asing MUFG Lee Hardman mengatakan pada akhir pekan lalu sempat muncul spekulasi bahwa pemerintah Jepang akan melakukan intervensi saat pasar AS libur sehingga likuiditas lebih tipis. Namun, hingga kini langkah tersebut belum dilakukan.

"Spekulasi sempat muncul bahwa Jepang akan kembali melakukan intervensi untuk mendukung yen saat pasar AS libur. Namun karena tidak ada tindakan yang dilakukan, yen kembali kehilangan sebagian penguatannya," ujarnya.

Pekan lalu, yen sempat menguat karena pelaku pasar mewaspadai kemungkinan perubahan strategi intervensi pemerintah Jepang.

Namun, mereka menilai lonjakan nilai tukar pada Kamis lalu bukan merupakan indikasi adanya intervensi resmi.

Baca Juga: Akhir Kisah Ronaldo di Piala Dunia: Enam Edisi, Tanpa Trofi Juara

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed memudar

Di pasar global, dolar AS bergerak cenderung melemah setelah investor kembali memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini menyusul data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan.

Euro naik tipis ke level US$ 1,1442, melanjutkan penguatan pada sesi sebelumnya. Sementara itu, poundsterling menguat ke US$ 1,34005, tertinggi dalam lebih dari dua pekan.

Baca Juga: Samsung Prediksi Laba Kuartal II Melonjak 19 Kali Lipat Berkat Ledakan AI

Indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama berada di level 100,86.

Pelaku pasar kini memperkirakan total kenaikan suku bunga The Fed hingga Desember hanya sekitar 29 basis poin, turun dibandingkan sekitar 38 basis poin sepekan lalu.

Strategis mata uang Commonwealth Bank of Australia Carol Kong menilai, ekspektasi pasar saat ini masih terlalu rendah.

"Saya melihat ekspektasi pasar saat ini sedikit terlalu rendah. Kami masih memperkirakan FOMC akan mulai menaikkan suku bunga pada Desember. Pasar memperkirakan siklus kenaikan dimulai lebih cepat, tetapi besaran kenaikannya masih lebih kecil dari proyeksi kami," katanya.

Perhatian investor kini tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juni yang akan dirilis Rabu (8/7).

Dokumen tersebut diharapkan memberi petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga AS.

Baca Juga: Gol Mikel Merino Akhiri Karier Cristiano Ronaldo di Piala Dunia

Menurut Kong, risalah rapat kali ini kemungkinan tidak akan memberikan banyak informasi baru karena Ketua The Fed Kevin Warsh diketahui tidak menyukai pemberian panduan (forward guidance) mengenai arah kebijakan moneter.

Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia stabil di US$ 0,6955, sedangkan dolar Selandia Baru naik tipis 0,02% menjadi US$ 0,5702.