Yen Kembali Sentuh Level Kristis 160 per Dolar Rabu (3/6), Jepang Siaga Intervensi



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang kembali melemah hingga menyentuh level psikologis 160 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Pergerakan tersebut memicu peringatan dari otoritas Jepang dan meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan intervensi pemerintah di pasar valuta asing.

Pelemahan yen terjadi seiring menguatnya dolar AS yang didorong meningkatnya permintaan aset safe haven setelah ketegangan di Timur Tengah kembali memanas.


Baca Juga: Bursa Kripto Terbesar Iran Kena Sanksi AS karena Diduga Fasilitasi Transaksi IRGC

AS menyatakan Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara di kawasan Teluk, namun seluruh serangan gagal mencapai sasaran. Sebagai respons, militer AS melakukan serangan terhadap Pulau Qeshm di Iran.

Mandeknya perundingan diplomatik antara AS dan Iran turut memperburuk sentimen pasar. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, dolar AS cenderung menguat karena dianggap sebagai aset lindung nilai yang lebih aman.

Sebaliknya, yen justru berada di bawah tekanan. Sebagai negara pengimpor energi, Jepang sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak.

Lonjakan harga energi meningkatkan biaya impor dan memperburuk neraca perdagangan, sehingga menekan mata uang Negeri Sakura.

Baca Juga: Bursa Australia Ditutup ke Level Tertinggi Hampir Sebulan Rabu (3/6), Ini Pemicunya

Melansir Reuters pada perdagangan hari ini, yen sempat menyentuh level 160 per dolar AS, level yang sebelumnya menjadi titik intervensi pemerintah Jepang.

Pelemahan tersebut sekaligus menghapus penguatan yen yang sempat terjadi setelah pemerintah Jepang menggelontorkan sekitar 11,7 triliun yen atau setara US$ 73 miliar untuk menopang mata uangnya pada bulan lalu.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan, pemerintah siap merespons pergerakan nilai tukar apabila diperlukan.

Setelah pernyataan tersebut, dolar AS sedikit melemah terhadap yen dan terakhir diperdagangkan di kisaran 159,66 yen per dolar AS.

Baca Juga: BURSA ASIA-IHSG Anjlok ke Level Terendah 5 Tahun, Rupiah Ambruk ke Rp 17.930

Macro Strategist SEB Gustav Helgesson menilai, guncangan harga energi menjadi faktor utama yang menekan yen.

"Jika Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya, tekanan pelemahan terhadap yen kemungkinan akan mereda," ujarnya.

Pelaku pasar kini juga menyoroti pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu.

Investor berharap pidato tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai peluang kenaikan suku bunga BOJ pada bulan Juni.

Di pasar global, euro melemah 0,1% menjadi US$ 1,1620, sementara poundsterling relatif stabil di US$ 1,3460.

Baca Juga: SpaceX Bidik IPO Terbesar dalam Sejarah, Elon Musk Patok Harga Saham US$135

Data terbaru menunjukkan inflasi kawasan euro kembali meningkat pada Mei, didorong oleh kenaikan harga energi dan sektor jasa. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Sementara itu, perhatian investor juga tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).

Data lowongan kerja yang dirilis sebelumnya menunjukkan peningkatan terbesar dalam lima tahun terakhir, meskipun sebagian analis menilai angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja.

Pasar kini menantikan data payroll sektor swasta dan laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis Jumat (5/6). Data tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sekitar 18 basis poin hingga akhir tahun.

Baca Juga: Serangan Rudal Iran Hantam Bandara Kuwait, Penerbangan Dialihkan

Bahkan, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin telah sepenuhnya diperhitungkan pasar untuk awal tahun depan.

Di aset digital, bitcoin turun 0,6% ke level US$ 67.115 dan menyentuh titik terendah dalam dua bulan terakhir. Ether juga melemah ke US$ 1.874, level terendah dalam lebih dari tiga bulan.