KONTAN.CO.ID - Mata uang yen Jepang masih mempertahankan sebagian besar penguatannya pada perdagangan Selasa (4/8/2026), setelah intervensi bersama pemerintah Jepang dan Amerika Serikat (AS) pekan lalu membuat pelaku pasar berhati-hati untuk kembali mengambil posisi yang bertaruh pada pelemahan yen. Mengutip
Reuters, yen melemah tipis 0,1% ke level 157,35 per dolar AS pada awal perdagangan Asia.
Baca Juga: Gedung Putih Undang OpenAI, Google hingga Meta Bahas Uji Keamanan AI Meski demikian, posisi tersebut masih jauh lebih kuat dibandingkan level terendah dalam 40 tahun yang sempat dicapai sebelumnya. Pada sesi sebelumnya, yen sempat menyentuh level 155,20 per dolar AS, yang merupakan posisi terkuat dalam tiga bulan terakhir. Dalam tiga hari perdagangan terakhir, mata uang Jepang itu melonjak hingga 5%, setelah pemerintah Jepang mengonfirmasi telah melakukan intervensi pembelian yen secara terkoordinasi dengan Amerika Serikat pada Jumat (1/8). Langkah tersebut tergolong langka dalam kebijakan pasar valuta asing kedua negara. Global Market Strategist Invesco Jepang Tomo Kinoshita mengatakan, peluang adanya intervensi lanjutan masih akan membatasi tekanan terhadap yen dalam waktu dekat. "Saya memperkirakan kekhawatiran atas kemungkinan intervensi lanjutan oleh otoritas Jepang dan AS akan membatasi tekanan pelemahan yen dalam jangka pendek," ujarnya. Menurut Kinoshita, yen masih berpotensi menguat terhadap dolar AS hingga akhir tahun. Ia menilai agenda stimulus ekonomi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memang sempat menekan yen, tetapi sebagian besar dampak kebijakan tersebut kini telah diperhitungkan oleh pasar. Terhadap euro, yen bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari delapan bulan di kisaran 181,19 per euro, sementara terhadap poundsterling berada di 211,60 yen.
Baca Juga: 1.367 Bitcoin Raib dari Ribuan Dompet Coldcard, Kerugian Tembus Rp 1,6 Triliun Pasar berspekulasi ada intervensi baru Lonjakan tajam yen pada Senin memicu spekulasi bahwa otoritas Jepang kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing. Namun hingga kini pemerintah Jepang belum memberikan konfirmasi. Analis Citi mencatat volume transaksi pasangan dolar AS/yen pada Senin pagi mencapai sekitar US$ 27 miliar, jauh di atas rata-rata transaksi harian belakangan yang hanya sekitar US$ 1,9 miliar.
Baca Juga: Korea Utara Tuding AS Gunakan Isu Ancaman Siber untuk Cemarkan Citra Pyongyang Dolar masih tertekan Di sisi lain, dolar AS masih berada di bawah tekanan setelah melemah akibat intervensi pembelian yen dan penurunan harga minyak dunia. Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung sebagai upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan. Namun, Iran membantah adanya negosiasi tersebut. Terhadap dolar AS, euro relatif stabil di US$ 1,1511, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam satu setengah bulan di US$ 1,1559.
Baca Juga: Inflasi Korea Selatan Turun ke 2,8% pada Juli 2026, di Bawah Ekspektasi Pasar Sementara itu, poundsterling melemah tipis 0,06% menjadi US$ 1,3427. Adapun US Dollar Index (DXY) menguat tipis ke 99,98, setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam satu setengah bulan. Pelaku pasar sebelumnya melepas dolar setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya pada pekan lalu. Pelemahan dolar semakin dalam setelah intervensi yen oleh Jepang dan AS. Strategist Commonwealth Bank of Australia Joseph Capurso menilai, pasar bereaksi berlebihan terhadap keputusan The Fed tersebut. "Kami menilai pelaku pasar bereaksi berlebihan dengan menjual dolar AS setelah The Fed mempertahankan suku bunga. Suku bunga AS masih berpotensi naik, hanya saja bukan dalam jangka waktu secepat yang diperkirakan pasar," katanya. Menurut Capurso, perhatian investor kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat atau nonfarm payrolls yang akan dirilis Jumat (8/8).
Baca Juga: TikTok Capai Kesepakatan Damai dalam Gugatan Dampak Media Sosial pada Remaja Data tersebut dinilai menjadi indikator penting untuk menentukan waktu kenaikan suku bunga berikutnya oleh The Fed. Saat ini, pasar memperkirakan total kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun mencapai sekitar 35 basis poin. Di mata uang lainnya, dolar Australia naik tipis 0,04% menjadi US$ 0,7003, sedangkan dolar Selandia Baru melemah 0,1% ke level US$ 0,5867.