KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang kembali melemah pada perdagangan Jumat (31/7/2026), sehari setelah melonjak tajam akibat intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ). Mengutip
Reuters, dolar AS sempat menguat hingga 0,45% ke level 160,175 yen pada awal perdagangan Asia. Sehari sebelumnya, dolar anjlok 2,4% terhadap yen, penurunan harian terbesar sejak Januari 2023.
Baca Juga: Trump Klaim Ada Kesepakatan Bersejarah Pelucutan Senjata Hamas, Israel Belum Setuju Sumber
Reuters mengatakan pemerintah Jepang melakukan intervensi dengan membeli yen dan menjual dolar pada sesi perdagangan New York. Langkah tersebut berhasil mengangkat yen dari posisi terendahnya dalam sekitar 40 tahun. Pasar secara luas memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunga jangka pendek di level 1% setelah baru menaikkannya pada Juni lalu. Namun, bank sentral diperkirakan akan memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish seiring meningkatnya tekanan inflasi. Keputusan BOJ tersebut menyusul langkah Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuan.
Baca Juga: Apple Beri Outlook Penjualan di Bawah Ekspektasi, Saham Turun 5,5% Sikap The Fed membuat dolar AS tertekan karena pelaku pasar mempertanyakan seberapa serius bank sentral AS dalam mengendalikan inflasi. Lambatnya kenaikan suku bunga di Jepang selama ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama melemahnya yen hingga menyentuh level terendah dalam empat dekade. Mayoritas analis yang disurvei Reuters memperkirakan BOJ masih akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25% sebelum akhir tahun. Analis strategi valuta asing National Australia Bank Rodrigo Catril mengatakan, kondisi saat ini menjadi waktu yang tepat bagi otoritas Jepang untuk melakukan intervensi. "Jika ingin melakukan intervensi, ini mungkin waktu yang cukup tepat," ujar Catril.
Baca Juga: Setelah UEFA, CONCACAF Juga Tolak Proposal FIFA Jual Saham Turnamen Menurut dia, pelemahan dolar AS akibat turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka pendek serta membaiknya sentimen risiko global mendukung efektivitas intervensi tersebut. Namun, ia mengingatkan yen berpotensi kembali tertekan apabila BOJ gagal memberikan sinyal kebijakan yang cukup
hawkish dalam pertemuan kali ini. Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia bergerak relatif stabil di level 100,6 setelah merosot 0,7% pada perdagangan sebelumnya.
Secara mingguan, indeks dolar diperkirakan turun sekitar 1,5% dan melemah 1,2% sepanjang Juli.
Baca Juga: Trump Perintahkan Pembatasn Ekspor Limbah Mineral Penting Di pasar mata uang lainnya, euro berada di level US$ 1,1523 setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam enam pekan. Pound sterling diperdagangkan stabil di US$ 1,34605. Adapun dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing melemah sekitar 0,1% menjadi US$ 0,70245 dan US$ 0,5875.