Yen Menguat Tajam Kamis (3/9), Pasar Waspadai Intervensi Jepang



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen bertahan menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), setelah melonjak secara tiba-tiba dalam perdagangan sebelumnya.

Pergerakan tersebut memicu spekulasi bahwa otoritas Jepang kemungkinan melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Mengutip Reuters, yen berada di level 158,88 per dolar AS pada Kamis. Mata uang Jepang tersebut sebelumnya melonjak sekitar 0,9% dalam perdagangan Rabu (2/9).


Baca Juga: Yield Obligasi Jepang Turun Jelang Lelang JGB 30 Tahun

Penguatan yen yang terjadi secara tiba-tiba membuat pelaku pasar waspada terhadap kemungkinan intervensi resmi dari pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya.

Namun, Carol Kong, currency strategist Commonwealth Bank of Australia menilai kenaikan tersebut belum cukup besar untuk disebut sebagai intervensi.

"Penguatan yen sekitar 0,9% bukanlah pergerakan yang besar, dan saya jelas tidak berpikir itu adalah intervensi," kata Kong.

Meski demikian, sejumlah pelaku pasar berspekulasi bahwa penguatan yen tersebut dipicu oleh rate check, yakni langkah otoritas Jepang menghubungi pelaku pasar untuk mengetahui harga valuta asing sebagai bagian dari persiapan intervensi.

Penguatan yen juga terjadi secara luas terhadap sejumlah mata uang utama. Euro melemah sekitar 1% terhadap yen pada Rabu, sementara poundsterling turun 1,15%. Kedua mata uang tersebut masih mencatat pelemahan pada perdagangan awal Asia Kamis.

Baca Juga: Pasokan Terancam, Harga Minyak Brent Bertahan di Atas US$ 95 per Barel

Yen Masih Tertekan

Sejak intervensi pembelian yen yang dilakukan secara bersama oleh Amerika Serikat (AS) dan Jepang pada 31 Juli 2026, yen masih kesulitan mempertahankan penguatannya.

Mata uang Jepang tersebut masih menghadapi tekanan akibat selisih suku bunga AS dan Jepang yang lebar, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang, serta kenaikan harga energi.

Di pasar valuta asing yang lebih luas, penguatan yen turut membuat dolar AS berada di bawah tekanan.

Euro menguat tipis menjadi US$ 1,1589. Poundsterling juga mencoba bangkit dari level terendah dalam tiga pekan dan terakhir berada di US$ 1,3482.

Baca Juga: Yield Obligasi Global Naik, IMF Khawatir Beban Utang Negara Berkembang Membengkak

Dolar Selandia Baru naik tipis 0,07% menjadi US$ 0,5856 setelah anjlok 0,67% pada Rabu. Pelemahan tersebut terjadi setelah bank sentral Selandia Baru menaikkan suku bunga dengan sikap yang dinilai dovish.

Sementara itu, dolar Australia bertahan di sekitar level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan, yakni US$ 0,7166.

Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar AS turun 0,04% menjadi 99,56. Dolar Kanada juga mempertahankan penguatan dari perdagangan sebelumnya dan berada di C$ 1,3836 setelah Bank of Canada mempertahankan suku bunga pada Rabu.

Bank sentral Kanada tetap membuka kemungkinan pengetatan kebijakan untuk menekan inflasi.

Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS

Perhatian investor kini beralih ke laporan nonfarm payrolls AS yang akan dirilis pada Jumat (4/9/2026).

Ekonom memperkirakan jumlah tenaga kerja AS bertambah 56.000 pada Agustus, setelah secara mengejutkan turun 23.000 pada Juli. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di 4,1%.

Data tenaga kerja yang jauh lebih lemah dari perkiraan kemungkinan diperlukan untuk secara signifikan mengurangi peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.

Baca Juga: Uber Luncurkan Robotaxi di London, Gandeng Wayve untuk Teknologi AI

Saat ini, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai sekitar 61%.

Carol Kong menilai pasar kembali memperkirakan The Fed akan mengambil tindakan dalam waktu dekat untuk menekan inflasi setelah pidato hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.

"Setelah pidato hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, saya pikir pasar kembali pada pandangan bahwa The Fed siap mengambil tindakan dalam waktu dekat untuk membawa inflasi lebih cepat mendekati target," ujar Kong.