KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang berada di ambang level terlemah dalam hampir 40 tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sehingga meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar terhadap potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya. Melansir
Reuters pada perdagangan Jumat (19/6/2026), yen diperdagangkan di kisaran 161,25 per dolar AS setelah sempat menyentuh level 161,81 per dolar AS pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Hyundai Siap Kuasai 100% Boston Dynamics, Tebus Sisa Saham SoftBank US$ 325 Juta Posisi tersebut menjadi yang terlemah sejak Juli 2024 dan menghapus seluruh penguatan yen yang sempat terjadi setelah intervensi pemerintah Jepang pada tahun lalu. Jika yen menembus level tertinggi pasangan dolar AS/yen pada 2024 di 161,96, mata uang Jepang itu akan jatuh ke level terlemah sejak 1986. Kondisi likuiditas pasar yang lebih tipis menjelang libur Juneteenth di Amerika Serikat juga meningkatkan spekulasi bahwa otoritas Jepang dapat kembali masuk ke pasar valuta asing, seperti yang dilakukan pada akhir April dan awal Mei tahun lalu. Saat itu, Jepang menggelontorkan sekitar 11,7 triliun yen atau setara US$ 72,5 miliar untuk mendukung mata uangnya. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan pemerintah siap mengambil tindakan tegas terhadap pergerakan spekulatif di pasar valuta asing.
Baca Juga: Nikkei Jepang Cetak Rekor Baru Jumat (19/6), Reli Saham AI dan Chip Kian Menggila Menurutnya, komitmen tersebut juga mendapat dukungan dalam pertemuan negara-negara G7 baru-baru ini. Pejabat Jepang berulang kali merujuk pada pernyataan bersama dengan Amerika Serikat yang ditandatangani pada September tahun lalu, yang memberikan ruang bagi intervensi guna meredam volatilitas pasar yang berlebihan. Meski Bank of Japan (BOJ) telah kembali menaikkan suku bunga pekan ini, langkah tersebut belum mampu mengubah sentimen negatif terhadap yen. Penyebab utamanya adalah selisih suku bunga antara Jepang dan AS yang masih sangat lebar. Suku bunga Jepang tetap jauh lebih rendah dibandingkan AS, sehingga mendukung penguatan dolar AS dan mendorong praktik carry trade, yaitu strategi meminjam dana dalam yen dengan biaya murah untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi di negara lain. Pasar saat ini masih memperkirakan BOJ akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Namun, ekspektasi tersebut belum cukup untuk mengangkat yen.
Baca Juga: Damai AS-Iran Mulai Berlaku, Selat Hormuz Kembali Dibuka untuk Kapal Tanker Data terbaru menunjukkan posisi spekulatif net short terhadap yen telah mencapai level tertinggi sejak Juli 2024. Wakil Gubernur BOJ Ryozo Himino menegaskan kebijakan moneter Jepang tidak secara langsung menargetkan nilai tukar. Meski demikian, ia mengakui volatilitas mata uang kini memberikan dampak yang lebih besar terhadap perekonomian dibandingkan sebelumnya. "Karena itu, kami perlu mewaspadai kemungkinan pergerakan nilai tukar memengaruhi ekspektasi inflasi dan inflasi inti. Kami akan mencermati bagaimana pergerakan pasar berdampak pada ekonomi dan harga di Jepang," ujar Himino dalam sidang parlemen Jepang. Tekanan terhadap yen juga diperparah oleh konflik di Iran yang sempat mendorong kenaikan harga minyak dan inflasi global. Sebagai negara pengimpor energi, Jepang termasuk yang paling terdampak oleh lonjakan harga energi tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Lagi Jumat (19/6): Brent ke US$ 78,31 & WTI ke US$ 76,14 Di sisi lain, sikap semakin hawkish dari The Fed turut memperkuat dolar AS. Bank sentral AS pekan ini mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut, sehingga memperbesar tekanan terhadap yen. Kepala Riset Ekonomi Daiwa Capital Markets London Chris Scicluna menilai, yen masih rentan melemah lebih jauh di tengah prospek kebijakan moneter AS yang semakin ketat. "Dengan latar belakang The Fed yang semakin hawkish, yen berada dalam posisi yang rentan. Tekanan pelemahan kemungkinan masih berlanjut dan dalam situasi seperti itu otoritas Jepang bisa saja kembali melakukan intervensi untuk mendukung mata uangnya," ujarnya.